Kitab an-najasah 1a

4. Hewan Yang Masih Hidup Dalam bagian ini kita akan membahas terlebih dahulu tentang  kenajisan hewan yang masih hidup. 4.1. Babi (Khinzir) Al-Hanafiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah sepakat mengatakan bahwa babi yang masih hidup itu najis pada keseluruhan tubuhnya. Termasuk juga bagian yang terlepas darinya seperti bulu, keringat, ludah dan kotorannya. Dasarnya adalah firman Allah SWT :
Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. (QS. Al-An’am : 145) Kalau babi hidup dianggap najis apalagi babi yang mati menjadi bangkai. Bahkan meski pun seekor babi disembelih dengan cara yang syar`i, namun dagingnya tetap haram dimakan karena daging itu najis hukumnya.  Meskipun nash dalam Al-Quran Al-Kariem selalu menyebut keharaman daging babi, namun kenajisannya bukan terbatas pada dagingnya saja, namun termasuk juga darah, tulang, lemak, kotoran dan semua bagian dari tubuhnya.  
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disebut selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada
dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah : 173) 
Namun pandangan mazhab Al-Malikiyah agak sedikit berbeda. Mereka menganggap ‘ain tubuh babi itu tidak najis, lantaran mereka berpegang pada prinsip bahwa hukum asal semua hewan itu suci. 35 Begitu juga dengan ludahnya, dalam pandangan mereka bukan najis.36 a. Kulit Babi Para ulama sepakan bahwa babi yang mati, maka hukum kulitnya  tetap najis, meski pun sudah mengalami penyamakan (غﺎﺑﺪﻟا). Sementara hewan-hewan lain yang mati menjadi bangkai, apabila kulitnya disamak, hukumnya menjadi suci kembali. Dan mazhab Al-Malikiyah yang tidak menganggap babi yang hidup itu najis, ketika bicara tentang kulit babi yang sudah mati, mereka mengatakan hukumnya tetap najis.37 Satu-satunya pendapat yang mengatakan bahwa kulit babi itu tidak najis bila telah disamak adalah sebuah riwayat dari Abu Yusuf.38 b. Berubah Wujudnya ‘Ain Babi ‘Ain suatu benda maksudnya adalah wujud fisik, hakikat dan dzat benda itu. ‘Ain suatu benda bisa berubah wujud dengan proses tertentu. Misalnya, minyak bumi yang kita pakai untuk bahan bakar,                                                 
  35 Asy-Syahushshaghir jilid 1 halaman 43 36 Al-Kharsyi jilid 1 halaman 119 37 Al-Majmu’ jilid 1 halaman 217 38 Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah jilid 20 halaman 34

menurut pada ahli dahulu berasal dari hewan atau tumbuhan yang hidup jutaan tahun yang lalu. Disini terjadi perubahan ‘ain dari hewan menjadi ‘ain minyak bumi.  Proses perubahan ‘ain suatu benda menjadi ‘ain yang lain disebut (ﺔﻟﺎﺤﺘﺳا) istihalah.  Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah mengatakan bahwa benda yang najis apabila telah mengalami perubahan ‘ain dengan istihalah, maka pada hakikatnya benda itu sudah berubah wujud, sehingga hukumnya sudah bukan lagi seperti semua, tetapi berubah menjadi suci. Jadi bila kita ikuti logika pandangan kedua mazhab itu, apabila babi sudah berubah menjadi benda lain, misalnya menjadi tanah, garam, fosil, batu atau benda lainnya yang sama sekali tidak lagi dikenali sebagai babi, maka hukumnya tidak najis. Dengan logika ini, insulin dan benda-benda kedokteran yang disinyalir berasal dari ekstrak babi, secara nalar telah mengalami perubahan ‘ain lewat proses istihalah. Sehingga hukumnya tidak lagi najis. Namun dalam pandangan mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah, meski pun benda najis sudah berubah ‘ain-nya dan beristihalah menjadi ‘ain yang lain, tetap saja hukum najis terbawa serta. Dengan pengecualian dua kasus saja, yaitu penyamakan kulit bangkai dan berubahnya khamar menjadi cuka. Selebihnya, semua perubahan ‘ain tidak berpengaruh pada perubahan hukum, termasuk babi yang diekstrak menjadi insulin dan sebagainya. 

c. Nilai Harta dan Kepemilikan Babi
Lantaran babi dikategorikan benda najis secara ‘ain, maka hukumnya berpengaruh kepada hukum kepemilikan dan nilai jualnya.  Para ulama mengatakan bahwa babi itu tidak sah untuk dimiliki karena kenajisannya. Dan berarti juga tidak sah untuk diperjual-belikan. Dalilnya adalah hadits berikut ini :

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW berkata pada hari fathu Mekkah,”Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi dan berhala”. Seseorang bertanya,”Ya Rasulallah, bagaimana hukumnya dengan minyak (gajih) bangkai? minyak itu berguna untuk mengecat (merapatkan) lambung kapal, juga untuk mengeringkan kulit dan digunakan orang buat bahan bakar lampu”. Rasulullah SAW menjawab,”Tidak, tetap haram hukumnya”. Kemudian beliau SAW meneruskan,”Semoga Allah memerangi Yahudi ketika diharamkan atas mereka, malah mereka perjual-belikan dan makan keuntungan jual-beli itu. (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama sepakat, dengan diharamkannya kepemilikan dan jual-beli seorang muslim atas babi, maka apabila ada seorang muslim yang mencuri babi milik orang lain yang muslim, atau menghilangkannya, tidak perlu menggantinya dan juga dipotong tangan meski tetap berdosa. 39 Namun bila babi itu milik selain muslim, maka hukumnya wajib mengganti atau mengembalikan-nya, sebagaimana pendapat Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah.
4.2. Anjing Para ulama mengatakan bahwa seluruh tubuh anjing merupakan hewan najis berat (mughallazhah). Namun ada juga pendapat sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa najis anjing itu hanya air liurnya dan mulutnya saja. a. Mazhab Al-Hanafiyah Dalam mazhab Mazhab Al-Hanafiyah40, yang najis dari anjing hanyalah air liur, mulut dan kotorannya saja. Sedangkan tubuh dan bagian lainnya tidak dianggap najis. Kedudukan anjing sebagaimana hewan yang lainnya, bahkan umumnya anjing bermanfaat banyak buat manusia. Misalnya sebagai hewan penjaga atau pun hewan untuk berburu.  Mengapa demikian ?  Sebab dalam hadits tentang najisnya anjing, yang ditetapkan sebagai najis hanya bila anjing itu minum di suatu wadah air. Maka hanya bagian mulut dan air liurnya saja (termasuk kotorannya) yang dianggap najis.
  
   Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila anjing minum dari wadah air milikmu, harus dicuci tujuh kali.(HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW bersabda,”Sucinya wadah minummu yang telah diminum anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.(HR. Muslim dan Ahmad)
     
 b. Mazhab Al-Malikiyah Mazhab ini juga mengatakan bahwa badan anjing itu tidak najis kecuali hanya air liurnya saja. Bila air liur anjing jatuh masuk ke dalam wadah air, wajiblah dicuci tujuh kali sebagai bentuk ritual pensuciannya.41 c.Mazhab As-Syafi`iyah dan Al-Hanabilah42 Kedua mazhab ini sepakat mengatakan bahwa bukan hanya air liurnya saja yang najis, tetapi seluruh tubuh anjing itu hukumnya najis berat, termasuk keringatnya. Bahkan hewan lain yang kawin dengan anjing pun ikut hukum yang sama pula. Dan untuk mensucikannya harus dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah. Logika yang digunakan oleh mazhab ini adalah tidak mungkin kita hanya mengatakan bahwa yang najis dari anjing hanya mulut dan air liurnya saja. Sebab sumber air liur itu dari badannya. Maka badannya itu juga merupakan sumber najis. Termasuk air yang keluar dari tubuh itu juga, baik kencing, kotoran dan juga keringatnya. Pendapat tentang najisnya seluruh tubuh anjing ini juga dikuatkan dengan hadits lainnya : Bahwa Rasululah SAW diundang masuk ke rumah salah seorang kaum dan beliau mendatangi undangan itu. Di kala lainya, kaum yang lain mengundangnya dan beliau tidak mendatanginya. Ketika ditanyakan kepada beliau apa sebabnya beliau tidak mendatangi undangan yang kedua, beliau bersabda,”Di rumah yang kedua ada anjing sedangkan di rumah yang pertama hanya ada kucing. Dan kucing itu itu tidak najis”. (HR. Al-Hakim dan Ad-Daruquthuny). Dari hadits ini bisa dipahami bahwa kucing itu tidak najis, sedangkan anjing itu najis.
41 Asy-Syarhul Kabir jilid 1 halaman 83 dan As-Syarhus-Shaghir jilid 1 halaman 43. 42 Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 78, kitab Kasy-syaaf Al-Qanna` jilid 1 halaman 208 dan kitab Al-Mughni jilid 1 halaman 52.  39 Al-Bahrurraiq jilid 5 halaman 55 40 Lihat kitab Fathul Qadir jilid 1 halaman 64, kitab Al-Badai` jilid 1 halaman 63. 

This entry was published on July 16, 2014 at 6:18 am and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: