Kitab an-najasah 1b

4.3. Hewan Buas Hewan buas dalam bahasa Arab disebut dengan siba’ (عﺎﺒﺴﻟا). Kita menemukan beberapa hadits yang shahih tentang hewan buas ini, antara lain :

Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda,”Semua hewan yang punya taring dari hewan buas, maka haram hukumnya untuk dimakan”. Dan ditambahkan :”Semua yang punya cakar dari unggas”  (HR. Muslim) Keharaman memakan hewan yang bertaring dan cakar maksudnya adalah hewan yang memakan makanannya dengan cara membunuh mangsanya dengan taring atau cakarnya. Bukan sekedar hewan itu punya gigi taring atau kuku. Sapi dan kambing juga punya gigi taring dan kuku, sebagaimana ayam dan burung dara juga punya kuku, yang tidak disebut cakar dari ceker. Namun meski pun demikian, kalau kita lihat catatan para ulama mazhab, ternyata tetap ada perbedaan pandangan disana sini, yang menandakan mereka belum bulat menyepakati kenajisannya. 
Al-Hanafiyah mengatakan bahwa semua hewan buas hukumnya najis, seperti singa, macam, srigala, harimau, kera, termasuk juga burung buas yang memakan bangkai seperti elang (ﺮﻘﺻ), falcon (ﻦھﺎﺷ) dan lainnya. 43 Al-Malikiyah mengatakan bahwa meski pun haram dimakan, namun bukan berarti najis. Karena pada dasarnya semua hewan yang hidup itu pada dasarnya tidak najis.44 As-Syafi’iyah juga sepedapat bahwa meski haram memakannya, namun mereka mengatakan bahwa semua hewan hidup itu hukumnya tidak najis, kecuali anjing dan babi. Termasuk najis adalah hewan yang lahir dari perkawinan anjing, atau dari perkawinan babi atau dari perkawinan kedua.45 5. Bangkai Al-Jashshash dalam tafsirnya, Ahkamul-Quran, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan bangkai (ﺔﺘﯿﻣ) adalah  : ﻰﻛﺬﻤﻟا ﺮﯿﻏ ﺖﯿﻤﻟا ناﻮﯿﺤﻟا, hewan yang matinya tidak disembelih dengan cara disembelih46. Hewan yang menjadi bangkai hukumnya najis., sebagaimana firman Allah SWT  dalam Al-Quran Al-Kariem tentang hukum bangkai

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disebut selain Allah . Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Baqarah : 173)                                      
(44 Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 27 45 Raudhatut-Thalibin jilid 1 halaman 13 46 Ahkamul Quran lil Al-Jashshash 1 halaman 132 )
Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor (najis)”.(QS. Al-An’am : 145) Keempat mazhab yaitu Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah telah sampai kepada level ijma’ bahwa bangkai itu selain haram dimakan, juga merupakan benda yang berstatus najasatul ‘ain (ا ﺔﺳﺎﺠﻧﻦﯿﻌﻟ). Maksudnya, dari sisi dzat-nya, bangkai itu memang benda najis. 47 Ada dua macam kematian bangkai. Pertama, bangkai itu mati oleh sebab tindakan manusia. Dalam hal ini, yang cara penyembelihannya tidak sesuai dengan syariah Islam. Kedua, mati bukan karena tindakan manusia, seperti terbunuh, mati karena tua, atau dimangsa hewan lain, dan seterusnya.

4.1. Disembelih Untuk Selain Allah Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa yang termasuk bangkai adalah hewan yang disembelih untuk selain Allah, atau juga untuk berhala. ِﻪِﺑ ِﻪﹼﻠﻟﺍ ِﺮﻴﻐِﻟ ﱠﻞِﻫﹸﺃ ﺎﻣﻭ (Diharamkan bagimu) yang disembelih atas nama selain Allah (QS. Al-Maidah 3) ِﺐﺼﻨﻟﺍ ﻰﹶﻠﻋ ﺢِﺑﹸﺫ ﺎﻣﻭ (Diharamkan bagimu) yang disembelih utnuk berhala (QS. AlMaidah 3) Meski pun ayam itu halal, tetapi jika saat disembelihnya ditujukan untuk selain Allah, maka ayam itu hukumnya adalah bangkai. Termasuk bila disembelih untuk dijadikan sesaji kepada roh-roh tertentu, atau untuk jin dan makhluk halus lainnya. Daging hewan yang dijadikan persembahan untuk dewa, atau untuk penunggu laut kidul, termasuk dalam bab ini.  4.2. Disembelih Tidak Syar’i Hewan yang disembelih dengan jalan dipukuli, dibanting, diracun atau ditabrakkkan adalah bangkai.  Sebab penyembelihan yang syar’i adalah dengan cara pemutusan aliran darah di leher, baik dengan cara dzabh (sembelih) atau pun nahr (ditusuk dengan tombak).  Sebagaimana firman Allah SWT : ﺮﺤﻧﺍﻭ ﻚِّﺑﺮِﻟ ِّﻞﺼﹶﻓ Dan lakukan shalat untuk tuhanmu dan lakukanlah an-nahr (penyembelihan). (QS. Al-Kautsar :2)
Namun bila hewan itu mati karena diburu oleh muslim atau ahli kitab, meski dengan tombak, anak panas, peluru atau sesuatu yang melukai badannya, hukumnya bukan termasuk bangkai. Karena berburu adalah salah satu cara penyembelihan yang  syar’i, meski bukan dengan cara penyembelihan. Bahkan di dalam Al-Quran dijelaskan tentang kebolehan berburu dengan menggunakan hewan pemburu yang sudah pasti termasuk hewan buas.
Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan  oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu . Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu . Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.(QS. Al-Maidah : 4) 4.3. Disembelih Kafir Non Kitabi Hewan yang disembelih oleh orang yang bukan muslim hukumnya adalah bangkai. Penyembelihan yang syar’i mensyaratkan penyembelihnya harus muslim atau setidaknya ahli kitab. Sebagaimana firman Allah SWT :
       ﻢﻬﱠﻟ ﱡﻞِﺣ ﻢﹸﻜﻣﺎﻌﹶﻃﻭ ﻢﹸﻜﱠﻟ ﱞﻞِﺣ ﺏﺎﺘِﻜﹾﻟﺍ ﹾﺍﻮﺗﻭﹸﺃ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ ﻡﺎﻌﹶﻃﻭ

Sembelihan ahli kitab itu halal untukmu dan sembelihanmu halal untuk mereka. (QS. Al-Maidah : 5) Sedangkan bacaan basmalah hanya sunnah bukan merupakan syarat atau kewajiban, sebagaimana dikemukakan oleh mazhab Asy-Syafi’iyah.  4.3. Mati Tanpa Disembelih Yang termasuk bangkai adalah hewan yang matinya  tidak disembelih tetapi mati terbunuh. Ada yang mati karena tercekik, terpukul, jatuh, ditanduk, atau  diterkam binatang buas. Termasuk juga hewan yang biarkan mati karena serangan wabah penyakit tertentu.  Sebagaimana firman Allah SWT : 

ﻊﺒﺴﻟﺍ ﹶﻞﹶﻛﹶﺃ ﺎﻣﻭ ﹸﺔﺤﻴِﻄﻨﻟﺍﻭ ﹸﺔﻳﺩﺮﺘﻤﹾﻟﺍﻭ ﹸﺓﹶﺫﻮﹸﻗﻮﻤﹾﻟﺍﻭ ﹸﺔﹶﻘِﻨﺨﻨﻤﹾﻟﺍﻭ
yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan
diterkam binatang buas (QS. Al-Maidah : 3)
Namun bila sebelum mati, hewan itu sempat disembelih secara syar’i, hukumnya bukan bangkai, karena secara sah mati akibat penyembelihan. ﻢﺘﻴﱠ ﻛﹶﺫ ﺎﻣ ﱠﻻِﺇ Kecuali yang sempat kamu sembelih. (QS. Al-Maidah : 3)
4.4. Potongan Tubuh Hewan Yang Masih Hidup Anggota tubuh hewan yang terlepas atau terpotong dari tubuhnya termasuk benda najis dan haram hukumnya untuk dimakan.  (47 Tafsir Al-Fakhrurrazi jilid 5 halaman 19 )
4.5. Bangkai Yang Tidak Najis Ada beberapa jenis bangkai yang hukumnya tidak dianggap sebagai najis. Ketiak-najisannya memang disebutkan langsung di dalam nash yang kuat, sehingga menjadi pengecualian hukum.
a. Lalat dan Nyamuk Hewan yang tidak punya nafas seperti nyamuk, lalat, serangga dan sejenisnya, tidak termasuk bangkai yang najis. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW dalam masalah lalat yang jatuh tercebur masuk ke dalam minuman, dimana ada isyarat bahwa lalat itu tidak mengakibatkan minuman itu menjadi najis : Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila ada lalat jatuh ke dalam minumanmu, maka tenggelamkanlah kemudian angkat. Karena pada salah satu sayapnya ada penyakit dan salah satunya kesembuhan. (HR. Bukhari) Meski hadits ini hanya menyebut lalat, namun para ulama mengambil kesimpulan bahwa lalat itu sebagai hewan yang tidak punya darah, mati di dalam gelas minuman, tetapi tidak mengakibatkan najis. Maka hewan lain yang keadaannya mirip dengan lalat, yaitu tidak berdarah, juga punya hukum yang sama, yaitu tidak dianggap najis. b. Bangkai Hewan Laut Semua hewan laut pada dasarnya halal dimakan, oleh karena itu para ulama juga mengatakan bahwa hewan-hewan itu tidak merupakan hewan yang najis, baik dalam keadaan hidup atau mati. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :
.  Dari Abi Hurairah ra bahwa ada seorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Ya Rasulullah, kami mengaruhi lautan dan hanya membawa sedikit air. Kalau kami gunakan untuk berwudhu, pastilah kami kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut ?`. Rasulullah SAW menjawab,`(Laut) itu suci airnya dan halal bangkainya. (HR. Abu Daud 83, At-Tirmizi 79, Ibnu Majah 386, An-Nasai 59, Malik 1/22)48.  c. Hewan Darat dan Laut (Barma’i) Para fuqaha’ tidak sepakat tentang hukum hewan laut yang dapat bertahan lama hidup di darat, begitu juga sebaliknya, hewan darat yang dapat bertahan lama hidup di air. Istilah yang sering digunakan untuk hewan yang seperti ini adalah barma’i (ﻲﺌﻣﺮﺑ), yang merupakan gabungan dari dua kata, barr (ّﺮﺑ) darat dan maa’ (ءﺎﻣ) air.                                     
48 At-Tirmiy mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih
Al-Hanafiyah mengatakan hewan yang asalnya di laut atau air, apabila dia dapat hidup sementara waktu ke daratan dalam waktu yang lama dan mati di darat, hukumnya tetap suci dan tidak najis. Bahkan meski pun misalnya hewan itu mati di dalam cairan, seperti susu atau cuka, maka dalam murid Abu Hanifah yaitu Muhammad, cuka dan susu itu hukumnya tetap tidak najis, lantaran hewan itu tidak najis. Kecuali bila hewan itu punya darah yang mengalir keluar dan merusak cairan itu, barulah dianggap najis.49 Al-Malikiyah mengatakan bahwa hukum hewan laut yang bisa lama hidup di darat sama dengan hewan laut. Dalam hal ini mereka mencontohkan kodok laut dan penyu laut. Keduanya boleh dibilang sebagai hewan laut yang bisa lama bertahan di darat. Keduanya tetap dikatakan sebagai hewan laut, dan kemampuannya bisa bertahan hidup lama di darat tidak mengeluarkannya sebagai hewan laut.  Sehingga hukum-hukum yang berlaku bagi hewan itu sama persis dengan hukum hewan laut 100%. 50 Asy-Syafi’iyah mengatakan bahwa  hewan yang hidup di air dan di darat seperti bebek dan angsa hukumnya halal dimakan, tapi bangkainya tetap tidak halal.  Sedangkan kodok dan kepiting dalam pandangan masyhur mazhab ini termasuk yang haram dimakan. Demikian juga bila hewan itu punya bisa (racun). Termasuk ke dalam yang diharamkan adalah buaya dan kura-kura.51
Al-Hanabilah mengatakan bahwa hewan laut yang bisa bertahan hidup lama di darat, seperti kodok dan buaya, bila mati maka termasuk bangkai yang hukumnya najis.  Dan karena tubuh bangkai itu najis, maka bila mati di air yang sedikit, otomatis air yang sedikit itu juga ikut tercemar dengan kenajisannya. Dan bila air itu banyak sekali serta tidak tercemar dengan bangkai itu, maka air itu tidak dianggap terkena najis.52 

Posted from WordPress for Android

This entry was published on July 16, 2014 at 6:43 am and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: