Biografi ulama

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
( Lahir: 661 H. – Wafat: 728 H. )

Ini adalah biografi salah satu ulama amilin, dan imam rab-bani, Syaikhul Islam wal Muslimin, imam zamannya, yang ditela-dani pada masanya, keberkahan zaman, dan kebaikan hari, yang telah membersihkan debu dari Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dengannya Allah memperbarui Islam, setelah sebelumnya telah diusangkan oleh penyakit syirik dan paganisme, serta berbagai bid’ah yang buruk. Dengannya Allah menerangi mercusuar Sunnah dan memadamkan api bid’ah.

Seorang imam yang telah mengorbankan nafasnya yang ber-harga dan waktu-waktu kehidupannya, membela kebenaran dan pengikutnya, menolak kebatilan, dan menguak penyimpangannya, Imam Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah. Itu sudah cukup bagimu untuk menunjukkan kemuliaan, ilmu, dan keutamaannya.

Allah telah menyiapkan untuknya sebab-sebab kemuliaan dan keluhuran di dunia dan akhirat. Dia tumbuh dalam keluarga yang memiliki ilmu, keutamaan, dan Sunnah. Kakeknya, al-Majdu Abu al-Barakat adalah syaikh Hanabilah, dan ayahnya, Syihabuddin Abdul Halim adalah salah satu bintang petunjuk. Nama ayahnya hanyalah tersembunyi karena terletak di antara cahaya bulan dan sinar matahari, sebagaimana kata Imam adz-Dzahabi yang meng-isyaratkan dengan cahaya bulan kepada kakeknya (Abu al-Barakat) dan sinar matahari kepada Syaikhul Islam Ahmad bin Taimiyah. Kemuliaan dan ilmu keluarga penuh berkah ini tidak hanya ter-batas pada kakek dan ayahnya. Salah seorang ulama kontemporer telah mengemukakan biografi 26 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dari keluarga yang diberkahi ini. Mereka semua adalah ulama yang utama.

Syaikhul Islam tumbuh dalam keluarga yang penuh berkah. Dia memulai memperoleh ilmu pada usia dini, dan dia mengambil dari lebih dua ratus syaikh. Allah telah memberikan kepadanya akal yang cerdas dan hati yang suci bersih, sehingga dia tumbuh dengan sempurna. Dia adalah orang yang sangat menjaga waktunya, menggunakan nafas dan waktunya untuk berfatwa dan me-nyampaikan pelajaran, saat dia masih berusia 20 tahun. Dia menem-pati kedudukan ayahnya setelah wafatnya. Dia senantiasa memetik manfaat dan naik hingga menjadi Syaikhul Islam, dan berhak menjadi orang terdepan. Para ulama zamannya terpengaruh dengan-nya, dan dia menshibghah (mewarnai) mereka dengan shibghah salafiyyah.

Di antara mereka, ialah Imam al-Mizzi. Meskipun dia lebih tua usianya daripadanya dan lebih panjang bahunya dalam ilmu hadits, hanya saja dia terpengaruh dengan Madrasah Salafiyyah Ibnu Taimiyah. Demikian pula muridnya, Ibnu al-Qayyim, adz-Dzahabi, Ibnu Katsir, dan Ibnu Muflih. Semoga Allah merahmati mereka semua.

Ibnu Abdil Hadi mengatakan, Syaikh kami terus ber-tambah ilmunya, senantiasa dalam kesibukan, menyebarkan ilmu, dan bersungguh-sungguh di jalan kebajikan, hingga kepemimpinan dalam ilmu, amal, zuhud, wara’, keberanian, kedermawanan, ke-tawadhuan, kesantunan, taubat, kebesaran dan kewibawaan ber-puncak kepadanya.

Yang membantu keunggulannya dibandingkan rekan-rekan-nya, dan memimpin orang-orang sezamannya, adalah bahwa dia tidak sibuk dengan sedikit pun dari perkara dunia, dan berzuhud pada perhiasannya yang rendah, serta syahwat duniawinya.

Al-Bazzar mengatakan, Jika tidak, maka siapakah yang kita lihat dari kalangan ulama yang merasa puas terhadap dunia seba-gaimana orang ini puas terhadapnya, atau ridha sebagaimana keadaannya yang dijalaninya. Tidak pernah terdengar bahwa dia menginginkan istri cantik, budak wanita bermata lebar, rumah yang bagus, budak dan pendamping, kebun dan properti, atau menginginkan dinar dan dirham. Dia juga tidak menginginkan kendaraan dan kenikmatan, pakaian yang lembut lagi mewah, atau keluarga. Dia juga tidak berebut untuk mendapatkan kekuasaan, dan tidak pula pernah terlihat berusaha mendapatkan perkara-perkara yang mubah.

Siapa saja yang mempelajari biografi Syaikhul Islam, dia akan mengetahui secara meyakinkan mengapa dia tidak menikah, dan meninggalkan Sunnah yang agung ini, padahal dia adalah orang yang paling bersemangat dalam mengikuti Sunnah. Jawabannya, bahwa dia tidak memiliki peluang dalam kehidupannya yang mencapai 60 tahun untuk menikah. Dia mengalami dari satu peperangan ke peperangan lainnya, dari satu penjara ke penjara lainnya, dan dari satu perdebatan ke perdebatan lainnya. Inilah surat yang dikirimkan oleh Syaikhul Islam kepada ibunya untuk meminta maaf kepadanya karena telah melalaikannya dan tidak bisa pergi kepadanya. Dalam surat itu, dia mengatakan, Mereka mengetahui bahwa keberadaan kami di negeri-negeri ini hanyalah karena urusan darurat, yang bila kami abaikan, maka rusaklah urusan akhirat dan dunia kami. Demi Allah, kami sadar jauh dari kalian. Seandainya ada burung-burung yang bisa membawa kami, niscaya kami datang kepada kalian. Tetapi orang yang berada di tempat jauh itu memiliki udzur. Seandainya kalian melihat bagian dalam urusan, niscaya kalian –segala puji bagi Allah– tidak memilih saat itu kecuali hal itu, dan kami tidak pernah berniat untuk bermukim satu bulan pun. Bahkan, setiap hari kami beristikharah kepada Allah untuk kami dan kalian. Doakanlah kami dengan kebaikan. Kami juga memohon kepada Allah agar memilihkan untuk kami, kalian dan kaum Muslimin, sesuatu yang berisikan kebaikan, dalam kebaikan dan afiyat.

Syaikhul Islam meninggalkan mutiara-mutiara mewah dan kekayaan ilmiah yang mencengangkan berupa kitab-kitab, fatwa-fatwa, dan ketetapan-ketetapan. Di antara rahmat Allah kepada umat ini, ialah Allah memelihara kita -segala puji dan karunia un-tukNya atas segala nikmat- dengan sesuatu dari peninggalannya. Dari karya-karya Syaikhul Islam telah terbit lebih dari 70 jilid.

Betapa banyak warisan ilmiah yang masih tertahan di tempat-tempat penyimpanan manuskrip, belum dicetak, dan belum bisa diman-faatkan kaum Muslimin sepanjang masa. Betapa banyak warisan ilmiah yang hilang dan lenyap, lalu kita tidak mendengar beritanya lagi. Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam dan menjadikan ilmunya bermanfaat bagi kita. Dia meninggalkan dunia dalam ke-adaan bersabar lagi mencari pahala, memfokuskan diri pada Kitab Allah di penjara Damaskus. Karena itu, betapa perlunya penuntut ilmu dan manusia pada umumnya mempelajari biografi para tokoh tersebut! Semoga semangat salah satu penuntut ilmu terperbaha-rui, lalu dia bangkit untuk meraih derajat yang tinggi ini. Semoga shalawat dan salam terlimpah atas Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.

1. NAMA, KELAHIRAN, DAN CIRI-CIRI SYAIKHUL ISLAM IBNU TAI-MIYYAH

Namanya: Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin al-Khadhir bin Muhammad bin al-Khadhir bin Ali bin Abdullah bin Taimiyah an-Namiri al-Harrani ad-Dimasyqi Abu al-Abbas Taqiyyuddin Syaikhul Islam. Sebab penamaan ini (Taimiyah), Ibnu al-Mutawaffa menye-butkan dalam Tarikh Irbil, dia mengatakan, al-Hafizh Abu Muham-mad Abdurrahman bin Umar al-Harrani menceritakan kepadaku dari lafazhnya, dia mengatakan, Lebih dari satu orang telah men-ceritakan kepadaku, dan aku bertanya kepadanya tentang nama Taimiyah, apa maknanya? Dia menjawab, Ayah dan kakekku pergi berhaji –aku ragu siapa di antara keduanya yang mengata-kan– dan saat itu istrinya hamil. Ketika tiba di Taima`, dia melihat gadis kecil keluar dari tenda. Ketika kembali ke Harran, ternyata dia mendapati istrinya telah melahirkan. Ketika mereka memperlihat-kannya kepadanya, dia mengatakan, ‘Hai Taimiyah, hai Taimiyah,’ yakni dia serupa dengan apa yang dilihatnya di Taima`, lalu diberi nama dengannya, atau kata-kata yang semakna dengannya. Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi menyebutkan dalam at-Tibyan, dia mengatakan, Ibu kakeknya, Muhammad bin al-Khadhir, adalah pemberi nasihat yang biasa dipanggil dengan Taimiyah, lalu dia dinisbatkan kepadanya.

Kakeknya, Abu al-Barakat Majduddin Abdussalam bin Abdullah adalah imam, faqih, muhaddits.

Jamaluddin bin Malik mengatakan, Fiqih dilunakkan untuk Syaikh al-Majdu sebagaimana besi dilunakkan untuk Dawud.

Dia adalah penulis kitab al-Muntaqa min Ahadits al-Ahkam, al-Muharrar fi al-Fiqh, dan al-Ahkam al-Kubra.

Ayahnya, Syihabuddin Abu al-Mahasin Abdul Halim bin Abdussalam membaca fikih di hadapan ayahnya, menyempurna-kannya, mengajar, berfatwa, mengarang, dan menjadi syaikh nege-rinya setelah ayahnya. Adz-Dzahabi mengatakan, Syihabuddin adalah salah satu bintang petunjuk. Dia hanyalah tersembunyi karena terletak di antara cahaya bulan dan sinar matahari. Adz-Dzahabi mengisyaratkan kepada ayah dan anaknya.

Kelahirannya:
Dia dilahirkan di kota Harran pada hari Senin, 10 Rabi’ul Awwal 661 H.

Ciri-cirinya: Asy-Syaukani mengatakan, Adz-Dzahabi berkata, Dia adalah orang yang berkulit putih, berambut dan berjenggot hitam, sedikit uban, rambutnya mencapai kedua daun telinganya, kedua matanya seakan-akan lisan yang bisa berbicara, bertubuh sedang, jarak antara kedua pundaknya lebar, bersuara lantang, fasih, mem-baca dengan cepat dan tajam, tetapi diliputi dengan kesantunan.

2. PUJIAN ULAMA KEPADA SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH

Al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi mengatakan, Syaikh kami, al-Imam, Syaikhul Islam, orang yang tiada dua di zamannya, lautan ilmu, Taqiyyuddin… Dia (adz-Dzahabi) mengatakan, Dia memiliki keahlian yang sempurna tentang rijal (para perawi), jarh, ta’dil dan tingkatan me-reka, mengetahui berbagai disiplin ilmu hadits, sanad yang tinggi dan yang rendah, shahih dan dhaif, di samping hafal matan-matan-nya yang tiada duanya. Tidak ada seorang pun pada masa ini yang mencapai tingkatannya atau mendekatinya. Dia adalah orang yang mengagumkan dalam menghadirkan dan menggali hujjah-hujjah darinya. Kepadanyalah berpuncak dalam hal penisbatan kepada Kutub Sittah (Kitab al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud, an-Nasa`i, dan Ibnu Majah) dan Musnad, sehingga bisa dibenarkan bila dikatakan, ‘Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Tai-miyah, maka dia bukan hadits’.

Dia mengatakan juga, … dan dia terlalu besar untuk disifati oleh orang semacam diriku. Seandainya aku diminta bersumpah di antara Rukun dan Maqam, niscaya aku bersumpah, ‘Sesungguh-nya aku tidak pernah melihat dengan kedua mataku orang seperti-nya, dan tidak pula, demi Allah, dia tidak pernah melihat orang seperti dirinya dalam keilmuan’.

Al-Hafizh Ibnu Sayyid an-Nas mengatakan, Aku menda-patinya di antara orang-orang yang pernah aku jumpai… sebagai orang yang memiliki bagian dari berbagai macam ilmu. Dia nyaris menguasai Sunan dan Atsar secara hafalan. Jika berbicara tentang tafsir, maka dia adalah pembawa panjinya. Jika berfatwa tentang fikih, dia adalah orang yang mencapai puncaknya. Jika membicara-kan hadits, dia adalah orang yang memiliki ilmunya dan memiliki riwayatnya. Jika membicarakan tentang al-Milal wa an-Nihal (agama dan aliran), maka tidak ada yang lebih luas daripada pengetahuan-nya dan lebih tinggi daripada pemahamannya mengenai hal itu. Dia mengungguli semua orang dalam semua disiplin ilmu. Belum pernah mata seseorang melihat sepertinya, dan tidak pula matanya pernah melihat orang seperti dirinya.

Imam Allamah Kamaluddin az-Zamlakani 5 mengatakan, Belum pernah dilihat sejak lima ratus tahun ada orang yang lebih hafal daripadanya.

Dia (az-Zamlakani) mengatakan juga, Tuan kami, syaikh kami, dan panutan kami, asy-Syaikh al-Imam al-Alim al-Allamah, al-Auhad al-Bari’ al-Hafizh, az-Zahid al-Wari’ al-Qudwah, al-Kamil al-Arif, Taqiyuddin Syaikhul Islam, pemimpin para ulama, panutan para imam yang memiliki keutamaan, pembela Sunnah, penumpas bid’ah, hujjah Allah atas para hambaNya, pembantah ahli kesesatan dan pengingkaran, satu-satunya ulama amilin, akhir para mujtahid, Abu al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Tai-miyah al-Harrani, dengannya Allah meninggikan mercusuarNya dan mengokohkan pilar-pilar agama.

Apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyifatinya Sedangkan kebaikan-kebaikannya terlalu banyak untuk dihitung

Dia adalah hujjah yang kuat bagi Allah
Dia di tengah-tengah kami adalah keajaiban masa
Dia adalah tanda yang jelas di tengah makhluk
Cahayanya melebihi cahaya fajar
Allamah Ibnu Daqiq al-Id, ketika berjumpa dengannya dan mendengarnya (Ibnu Taimiyah), maka Ibnu Daqiq al-Id berkata, Aku tidak menduga bahwa Allah masih menciptakan orang sepertimu.

Dia mengatakan juga, Ketika aku bertemu dengan Ibnu Taimiyah, aku melihat seorang laki-laki di mana semua ilmu berada di pelupuk matanya, dia mengambil darinya apa saja yang diinginkannya, dan meninggalkan apa saja yang diinginkannya.

Allamah Ibnu al-Wardi mengatakan, Aku menghadiri majelis Ibnu Taimiyah, ternyata dia adalah bait kasidah, keunikan yang pertama, ulama zamannya, pusat segala bintang, dan jantung tubuh. Dia lebih daripada mereka sebagaimana kelebihan matahari di-bandingkan bulan purnama, dan lautan dibandingkan tetesan air. Suatu hari aku hadir di hadapannya, lalu menjawab dengan benar, maka dia memanggilku dengan kunyah dan mencium keningku. Aku pun mengatakan, Ibnu Taimiyah adalah tokoh satu-satunya Dalam semua cabang ilmu
Engkau hidupkan agama Ahmad (yakni Nabi Muhammad) Dan syariatnya, wahai Ahmad.

Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi mengatakan, Demi Allah, mataku tidak pernah melihat orang yang paling luas ilmunya, dan paling kuat kecerdasannya daripada orang yang biasa dipanggil Ibnu Taimiyah, di samping kezuhudannya dalam makanan, pa-kaian dan wanita, serta membela kebenaran dan berjihad dengan segala kemampuan.

Dia mengatakan juga, Ibnu Taimiyah, asy-Syaikh al-Imam al-Allamah, al-Hafizh an-Naqid al-Faqih, al-Mujtahid al-Mufassir, al-Bari’ Syaikhul Islam, tokoh para ahli zuhud, orang yang langka pada zamannya, salah satu tokoh terkemuka. Dia adalah salah satu lautan ilmu, salah seorang cendekiawan, salah seorang tokoh zuhud, dan salah seorang yang langka.

Asy-Syaikh al-Jalil Ahmad Waliyyullah ad-Dahlawi mengata-kan, Orang seperti Syaikh ini jarang ada di dunia, dan siapakah yang mampu mencapai kedudukannya, dalam hal tulisan dan ke-tetapannya? Sementara orang-orang yang mencelanya sama sekali tidak mencapai sepersepuluh sesuatu yang telah diberikan Allah kepadanya.

Imam Allamah Muhammad bin Ali asy-Syaukani mengata-kan, Aku tidak mengetahui, setelah Ibnu Hazm, orang sepertinya. Aku tidak menduga bahwa zaman telah memberikan di antara kedua masa dua tokoh tersebut dengan orang yang menyerupai keduanya atau mendekatinya. Dia memiliki hak untuk berijtihad karena syarat-syarat ijtihad berhimpun pada dirinya.

3. PERTUMBUHAN SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH DAN PENCARIAN ILMU YANG DILAKUKANNYA

Syaikhul Islam tumbuh dalam keterpeliharaan yang sem-purna, iffah, dan kesederhanaan dalam pakaian dan makanan. Dia tetap demikian sebagai keturunan yang baik, berbakti kepada kedua orang tuanya, bertakwa, wara’, ahli ibadah, banyak berpuasa, banyak melakukan Qiyamul Lail, mengingat Allah dalam segala urusan dan dalam segala keadaan, banyak kembali kepada Allah dalam ihwal dan problematika, senantiasa tunduk pada ketentuan-ketentuan Allah, perintah dan laranganNya, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar. Nyaris jiwa tidak pernah kenyang dari ilmu, tidak terpuaskan dari menelaah, tidak jemu dari kesibukan, dan tidak capek dari melakukan penelitian. Sejak masih kecil, tanda-tanda ketokohan telah tampak pada-nya, dan bukti-bukti perhatian Allah padanya sudah kentara.

Al-Hafizh al-Bazzar mengatakan, Aku diberi kabar oleh orang yang bisa aku percaya dari orang yang menceritakan tentangnya bahwa Syaikh pada masa kecilnya, ketika hendak pergi ke perpus-takaan, dia dihadang oleh orang Yahudi -yang rumahnya berada di jalan menuju perpustakaan- dengan sejumlah pertanyaan yang ditanyakannya kepadanya, karena dia melihat tanda-tanda kecer-dasan tampak padanya. Ibnu Taimiyah pun menjawabnya dengan cepat, sehingga dia merasa kagum kepadanya. Kemudian setiapkali melewatinya, Ibnu Taimiyah mengabarkan kepadanya mengenai hal-hal yang menunjukkan kebatilan syariat yang dianutnya, lalu tidak lama kemudian dia masuk Islam dan bagus keislamannya. Hal itu karena keberkahan Syaikh, meskipun usianya masih sangat belia.

Sejak masa kecilnya, dia sangat bersemangat dalam menuntut ilmu, bersungguh-sungguh dalam mendapat ilmu dan membiasa-kannya. Saat kecilnya, dia tidak mempedulikan sebagaimana anak-anak sebayanya, yaitu bermain dan senda gurau. Sebab, dia tidak merasakan kenikmatan melebihi kenikmatan karena menyibukkan diri dengan ilmu, dan dia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya sedikit pun pada selain ilmu.

Ada yang mengatakan, ayahnya, saudaranya dan segolongan dari keluarganya memintanya untuk pergi bersama mereka pada hari libur untuk refreshing dan bertamasya, tetapi dia malah lari dari mereka dan tidak pergi bersama mereka. Ketika mereka pulang pada akhir hari (petang), mereka mencelanya karena tidak turut serta bersama mereka dan tidak ikut tamasya, dengan akti-vitas di rumah sendirian. Maka dia mengatakan kepada mereka, Tidak ada sedikit pun yang bertambah untuk kalian, dan tidak ada yang terperbaharui, sedangkan aku telah hafal satu jilid ini saat kalian pergi. Kitab tersebut adalah Jannah an-Nazhir wa Junnah al-Munazhir.

Di antara peristiwa yang menunjukkan kekuatan kecerdasan-nya, kecepatan pemahamannya, dan istinbathnya, sekalipun usianya masih kecil, ialah peristiwa yang disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim. Dia mengatakan, Dia adalah anak kecil di tengah Bani an-Najjar, dan dia membahas bersama mereka, lalu mereka mengklaim sesuatu yang diingkarinya. Mereka pun mendatangkan nukilan-nukilan. Ketika dia melihatnya, maka dia melempar satu jilid buku dari tangannya karena marah. Mereka mengatakan kepadanya, ‘Kamu ini hanyalah orang yang lancang, kamu melempar satu jilid buku dari tanganmu, sedangkan itu adalah kitab ilmu?’ Dia balik bertanya dengan cepat, ‘Manakah yang lebih baik, aku atau Musa?’ Mereka menjawab, ‘Musa.’ Dia mengatakan, ‘Manakah yang lebih baik, kitab ini ataukah lempengan-lempengan batu mulia yang berisikan sepuluh kalimat?’ Mereka menjawab, ‘Lempengan-lem-pengan batu.’ Dia mengatakan, ‘Ketika Musa marah, dia melempar-kan lempengan-lempengan batu dari tangannya.’ Atau kata-kata seperti itu.

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan, Dia datang bersama ayah dan keluarganya ke Damaskus saat masih kecil, lalu dia men-dengar hadits dari Ibnu Abdi Da`im, Ibnu Abi al-Yusr, Ibnu Abdan, Syaikh Syamsuddin al-Hanbali, Syaikh Syamsuddin bin Atha` al-Hanafi, Syaikh Jamaluddin bin ash-Shairafi, Majduddin bin Asakir, Syaikh Jamaluddin al-Baghdadi, an-Najib bin al-Miqdad, Ibnu Abi al-Khair, Ibnu Allan, Ibnu Abi Bakar al-Yahudi, al-Kahli Abdurra-him, al-Fakhr Ali, Ibnu Syaiban, asy-Syaraf bin al-Qawwas, Zainab binti Makki, dan banyak lainnya yang dari merekalah dia mende-ngar hadits. Dia juga membaca sendiri banyak hadits, dan mencari hadits.

4. KEUNGGULAN SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH DALAM ILMU DAN PENGUASAANNYA DALAM SEMUA DISIPLIN ILMU, SERTA PARA ULAMA MENGISYARATKAN BAHWA DIALAH MU-JADDID MASANYA DAN MUTIARA ZAMANNYA

Al-Hafizh adz-Dzahabi 5 mengatakan, Dia adalah tanda utama dalam kecerdasan dan kecepatan pemahaman, pemimpin dalam hal pengetahuan tentang al-Qur`an, as-Sunnah, dan perseli-sihan, lautan berkenaan dengan dalil-dalil naqli. Pada zamannya, dia adalah orang yang tiada duanya di masanya, dalam segi keilmuan, kezuhudan, keberanian, kedermawanan, amar ma’ruf, nahi mung-kar, dan banyak karya. Dia membaca dan meraih hasil, menguasai hadits dan fikih, memiliki keahlian untuk mengajar dan berfatwa saat masih berusia 17 tahun.

Dia memiliki keunggulan dalam ilmu tafsir, ushul, dan semua ilmu Islam: ushulnya, furu’nya, detilnya dan globalnya, selain ilmu qira`at. Jika tafsir disebutkan, maka dia adalah pembawa panjinya. Jika fuqaha disebutkan, maka dia adalah mujtahid mutlak mereka. Jika para penghafal hadir, maka dia berbicara sedang mereka diam, dia mengemukakan sedangkan mereka terdiam, dia berkecukupan sedangkan mereka kehabisan materi. Jika ahli ilmu kalam disebut-kan, maka dia adalah orang yang tiada taranya di antara mereka dan menjadi rujukan mereka. Jika Ibnu Sina tampak mengemuka-kan para filosof, maka dia menjadikan mereka kebingungan, me-nguak tabir mereka, dan membuka kedok mereka. Dia memiliki penguasaan yang luas dalam pengetahuan tentang bahasa Arab, sharaf, dan bahasa. Dia terlalu besar untuk disifati oleh kata-kataku, atau kedudukannya dituliskan oleh penaku. Karena sejarah hidup-nya, ilmunya, pengetahuannya, ujian yang diterimanya, dan ber-pindah-pindahnya, bisa mencapai dua jilid. Namun dia adalah manusia di antara manusia lainnya yang memiliki kesalahan, dan semoga Allah mengampuninya, dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi. Dia adalah ulama rabbani dari umat ini, orang yang langka di zamannya, pembawa panji syariat, dan pembawa beban kaum Muslimin. Dia adalah pemimpin dalam keilmuan.

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan,
Dia menyibukkan diri dalam berbagai ilmu. Dia seorang yang cerdas, banyak hafalan, sehingga dia menjadi imam di bidang tafsir dan apa yang bertalian dengannya. Dia memiliki pengetahuan tentang fikih, sehingga dikatakan, dia lebih tahu tentang fikih ber-bagai madzhab daripada penganutnya yang ada di zamannya dan selainnya. Dia mengetahui perselisihan ulama, mengetahui tentang ushul dan furu’, nahwu dan bahasa, serta ilmu-ilmu lainnya, baik naqliyyah maupun aqliyyah. Tidaklah pembicaraannya di suatu majelis dipotong, dan tidaklah orang mulia berbicara bersamanya tentang salah satu disiplin ilmu, melainkan dia menduga bahwa disiplin ilmu tersebut adalah disiplin ilmunya, dan dia melihatnya sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang sempurna tentang-nya. Adapun hadits, maka dia adalah pembawa panjinya, peng-hafalnya, memiliki kemampuan untuk membedakan shahih dan dhaifnya, mengetahui rijal (para perawi)nya, dan menguasainya. Dia memiliki banyak karya, dan komentar-komentar yang berman-faat mengenai ushul dan furu’. Sebagiannya telah sempurna dan sudah disalin. Aku telah menulis darinya dan membaca sebagian-nya di hadapannya. Sebagian besarnya belum disempurnakan, dan sebagiannya sudah disempurnakan tapi belum disalin hingga sekarang. Dia dan ilmunya telah mendapatkan pujian dari ulama zamannya, seperti al-Qadhi al-Khubi, Ibnu Daqiq al-‘Id, Ibnu an-Nahhas, al-Qadhi al-Hanafi, Qadhi Qudhah Mesir Ibnu al-Hariri, Ibnu az-Zamlakani dan selain mereka. Aku telah mendapatkan dengan tulisan tangan Ibnu az-Zamlakani bahwa dia mengatakan, Syarat-syarat ijtihad telah berhimpun pada dirinya secara sem-purna, dan dia memiliki kemampuan yang luas dalam mengarang dengan baik, mengungkapkan dan menyusun dengan baik, penge-lompokan dan ketaatan beragama. Dia menulis bait-bait ini pada karyanya,
Apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyifatinya Sedangkan kebaikan-kebaikannya terlalu banyak untuk dihitung
Dia adalah hujjah yang kuat bagi Allah Dia di tengah-tengah kami adalah keajaiban masa Dia adalah tanda yang jelas di tengah makhluk Cahayanya melebihi cahaya fajar Dia mendapatkan pujian sedemikian rupa, padahal saat itu usianya sekitar 30 tahun.
Al-Allamah Ibnu Abdil Hadi mengatakan, Syaikh memiliki banyak karya tulis, fatwa, kaidah, jawaban, risalah, dan faidah-faidah lainnya yang tidak bisa diukur. Aku tidak mengetahui se-orang pun dari umat ini, baik yang terdahulu maupun yang terke-mudian yang menghimpun sebagaimana yang dihimpunnya, dan tidak pula mengarang sebagaimana yang dikarangnya, atau mirip dengannya. Padahal kebanyakan karyanya hanyalah dia diktekan dari hafalannya, dan banyak di antaranya dia karang di penjara, sedangkan dia tidak memiliki kitab-kitab yang dia butuhkan.

Syaikh Atsiruddin Abu Hayyan an-Nahwi mengatakan, Ke-tika Syaikh masuk Mesir, dan Abu Hayyan berkumpul dengannya, maka Abu Hayyan bersenandung, ‘Ketika kami melihat Taqiyyuddin, maka tampak pada kami Seorang da’i yang menyerukan kepada Allah sendirian tanpa memiliki tempat berlindung
Pada wajahnya terdapat sima (bercak hitam) generasi awal
Yang menyertai Sebaik-baik manusia berupa cahaya yang di bawah-nya ada bulan
Seorang ulama yang sepanjang masanya mengenakan baju keilmuan
Lautan yang dari gelombangnya memuntahkan mutiara Ibnu Taimiyah berjuang membela syariat kita Sebagaimana kedudukan Sayyid Taim ketika Mudhar durhaka Dia menampakkan agama ketika jejaknya telah hilang Memadamkan kemusyrikan ketika bola apinya melambung Wahai orang-orang yang membicarakan tentang ilmu kitab, sadarlah
Inilah imam yang telah lama ditunggu’.

Ibnu al-Imad al-Hanbali mengatakan, Dengan ini, dia meng-isyaratkan bahwa Ibnu Taimiyah adalah Mujaddid (Pembaharu). Di antara orang yang menegaskan hal itu, ialah Syaikh ‘Imaduddin al-Wasithi, dan dia meninggal sebelum Syaikh. Dia mengatakan mengenai Syaikh, setelah memberikan pujian secara panjang lebar, yang redaksinya demikian, ‘Demi Allah, kemudian demi Allah, ke-mudian demi Allah, belum pernah terlihat di bawah kolong langit ini seperti syaikh kalian, Ibnu Taimiyah, dalam hal ilmu, penga-malan, ihwal, akhlak, ittiba`, kedermawanan, kesantunan, berjuang membela agama Allah ketika kehormatanNya dilanggar, orang yang paling benar akidahnya, paling benar ilmu dan tekadnya, paling bersemangat dalam membela kebenaran dan mewujudkan tekad, orang yang paling dermawan, dan orang yang paling sem-purna dalam mengikuti NabiNya, Muhammad.

Kami tidak pernah melihat di zaman kami ini ada orang yang mana kenabian Muhammad tampak jelas dari kata-kata dan perbuatannya, kecuali orang ini. Hati yang bersih akan mengakui bahwa inilah ittiba’ yang sebenarnya.

Al-Alusi mengatakan, Ilmu seakan-akan bercampur dengan daging, darah, dan seluruh tubuhnya. Dia tidak punya pinjaman, bahkan dia memiliki syiar dan kekayaan. Allah telah menghimpun padanya sesuatu yang luar biasa, memberi taufik kepadanya di semua umurnya untuk kebahagiaan yang paling tinggi, dan men-jadikan jejak peninggalannya sebagai bukti terbesar atas imamahnya. Sampai-sampai semua orang yang memiliki akal sehat bersepakat bahwa dia termasuk orang yang dimaksudkan oleh Nabi kita dengan sabdanya,

إِنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِئَةِ سَنَةٍ، مَنْ يُجَدِّدُ لِهٰذِهِ الْأُمَّةِ أَمْرَ دِيْنِهَا.

‘Sesungguhnya Allah mengutus pada penghujung tiap-tiap seratus tahun seseorang yang memperbaharui urusan agama umat ini.’ [HR. Abu Dawud].

Dengannya, Allah menghidupkan syariat-syariat agama yang telah terhapus, dan menjadikannya sebagai hujjah pada masanya semuanya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

5. IBADAH DAN ZUHUDNYA SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Al-Bazzar mengatakan, Adapun ibadahnya, maka jarang sekali terdengar sepertinya, karena dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk hal itu. Sampai-sampai dia tidak menyedia-kan bagi dirinya suatu kesibukan pun yang dapat melalaikannya dari apa yang dikehendaki oleh Allah, baik harta maupun keluarga. Pada malam harinya, dia menyendiri dari semua orang, menyendiri dengan Rabbnya, berdoa, giat membaca al-Qur`an. Jika dia telah memulai shalat, maka anggota tubuhnya gemetar hingga mencon-dongkannya ke kanan dan ke kiri. Kebiasaannya sudah dikenal, yaitu tidak ada seorang pun diperkenankan berbicara dengannya tanpa keperluan yang bersifat darurat setelah shalat Shubuh. Dia senantiasa berdzikir dengan memperdengarkan untuk dirinya sendiri, dan terkadang memperdengarkan kepada orang yang berada di sampingnya. Di samping itu, di sela-sela dzikir tersebut, dia banyak memandang ke arah langit. Demikianlah kebiasaannya hingga matahari naik, dan hilang waktu larangan mengerjakan shalat. Ibnu al-Qayyim mengatakan, Suatu kali aku datang kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah saat shalat Shubuh, kemudian dia duduk untuk berdzikir pada Allah hingga hampir pertengahan hari. Kemudian dia menoleh kepadaku seraya mengatakan, ‘Inilah waktu makanku, dan seandainya aku tidak makan, niscaya ke-kuatanku menjadi lemah.’ Atau kata-kata yang mirip dengannya. Suatu kali, dia mengatakan kepadaku, ‘Aku tidak mening-galkan dzikir kecuali dengan niat untuk mengistirahatkan diriku, agar dengan istirahat tersebut aku bisa bersiap-siap untuk dzikir lainnya.’ Atau, kata-kata yang maknanya mirip dengannya. Adapun sikap zuhudnya, maka Syaikh memandang dunia ini dengan pandangan hina, fenomenanya lenyap di sisinya, dan hakikatnya tampak jelas. Karena itu, dia mengistirahatkan dirinya dari kepenatan dan kelelahan dunia untuk berkhidmat pada tubuh, dan bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan karena Allah dan negeri akhirat. Hatinya kosong dari syahwat, penuh dengan kecintaan kepada Allah dan RasulNya, mempercayai janji Allah dan RasulNya. Allah telah membukakan untuknya dengan zuhud ini sejak masa kecilnya, sehingga itu menjadi syiar dan sifat baginya. Para penulis biografinya bersepakat menyebutkan hal itu. Syaikhnya yang mengajarkan al-Qur`an kepadanya mengatakan, Ayahnya mengatakan kepadaku, saat dia -yakni Syaikh- masih kecil, ‘Aku ingin engkau berpesan kepadanya dan menjanjikan kepadanya, bahwa jika kamu tidak terputus dari membaca men-dikte, maka aku memberikan kepadamu 40 dirham setiap bulan.’ Ayahnya pun menyerahkan kepadaku 40 dirham, seraya mengatakan, ‘Berikanlah kepadanya!’ Karena dia anak kecil, dan mungkin dia akan gembira dengannya, lalu semangatnya dalam menghafal-kan al-Qur`an dan belajar akan bertambah. Dia pun memberikan kepadanya seraya mengatakan, ‘Kamu akan mendapat seperti itu setiap bulan.’ Namun dia menolak menerimanya, dan mengatakan, ‘Wahai tuanku, aku telah berjanji kepada Allah untuk tidak meng-ambil upah atas bacaan al-Qur`an.’ Dia pun tidak mengambilnya.

Al-Bazzar mengatakan, Jika tidak, maka siapakah yang kita lihat dari kalangan ulama yang merasa puas terhadap dunia se-bagaimana orang ini puas terhadapnya, atau ridha sebagaimana keadaannya yang dijalaninya. Tidak pernah terdengar bahwa dia menginginkan istri cantik, budak wanita bermata lebar, rumah yang bagus, budak dan pendamping, kebun dan properti, atau menginginkan dinar dan dirham. Dia juga tidak menginginkan kendaraan dan kenikmatan, pakaian yang lembut lagi mewah, atau keluarga. Dia juga tidak berebut untuk mendapatkan kekuasaan, dan tidak pula pernah terlihat berusaha mendapatkan perkara-perkara yang mubah.

6. AKHLAK SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Ibnu Abdil Hadi mengatakan, Syaikh kami terus ber-tambah ilmunya, senantiasa dalam kesibukan, menyebarkan ilmu, dan bersungguh-sungguh di jalan kebajikan, hingga berpuncak kepadanya kepemimpinan dalam ilmu, amal, zuhud, wara’, kebe-ranian, kedermawanan, ketawadhu’an, kesantunan, taubat, kebe-saran, kewibawaan, amar ma’ruf nahi mungkar, dan semua macam jihad. Di samping memiliki kejujuran, amanah, iffah, memelihara diri, kebaikan niat, ikhlas, berdoa kepada Allah, banyak takut kepadaNya, banyak merasa diawasi olehNya, berpegang teguh dengan atsar, berdoa kepada Allah, berakhlak mulia, memberi manfaat kepada manusia, berbuat baik kepada mereka, bersabar terhadap siapa saja yang mengganggunya, memaafkannya dan men-doakan kebaikan untuk mereka, dan berbagai kebaikan lainnya.

Di antara akhlaknya, ialah dermawan, tawadhu, berani, santun, dan suka memaafkan orang lain.

a. Kedermawanannya

Imam al-Bazzar mengatakan, Aku diberi cerita oleh orang yang bisa aku percaya bahwa Syaikh 5 pernah pada suatu hari lewat di suatu gang, lalu dia dipanggil oleh seorang fakir, dan Syaikh tahu akan keperluannya, sedangkan Syaikh tidak mempu-nyai sesuatu untuk diberikan kepadanya, maka dia melepas baju yang menempel pada kulitnya dan memberikannya kepadanya seraya mengatakan, ‘Juallah dengan harga yang bisa engkau peroleh, dan nafkahkanlah.’ Dia juga meminta maaf karena tidak memiliki suatu nafkah. Ini adalah salah satu bentuk ikhlas beramal karena Allah yang paling mendalam. Mahasuci Allah yang memberi taufik kepada siapa yang dikehendakiNya kepada apa yang dike-hendakiNya. Suatu hari seseorang meminta kepadanya buku yang bermanfaat, maka dia mengatakan, ‘Ambillah sesuatu yang engkau pilih.’ Lalu orang itu melihat Mushaf di antara kitab-kitab Syaikh, yang telah dibelinya dengan dirham yang banyak, maka dia meng-ambilnya dan pergi. Ketika sebagian jamaah mencela Syaikh karena hal itu, maka Syaikh mengatakan, ‘Apakah bagus bagiku untuk menghalanginya setelah dia memintanya. Biarkanlah dia memetik manfaat darinya’. Ibnu al-Qayyim 5 juga menjelaskan bahwa kedermawanan-nya juga berkenaan dengan ilmu. Jika dia ditanya tentang suatu persoalan berupa ilmu, maka dia menyebutkan madzhab-madzhab manusia mengenai hal itu, sumber perselisihannya, dan mentarjih pendapat yang rajih (kuat). Dia juga menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan itu yang mungkin akan bermanfaat bagi penanya dari pertanyaannya, lalu dia gembira dengan hal-hal yang berkaitan dengannya dan yang menjadi konsekuensinya yang lebih besar daripada kegembiraannya terhadap pertanyaannya tersebut. Sementara musuhnya mencelanya karena hal itu, dan mengatakan, Seseorang bertanya kepadanya tentang jalan Mesir –misalnya– dan dia memberikan jawaban kepadanya, bersama jalan Mesir, jalan Makkah, Madinah, Khurasan, Irak dan India. Apakah yang bertanya membutuhkannya?! Sungguh, itu bukanlah suatu aib, tetapi yang aib itu hanyalah kejahilan dan kesombongan. Inilah permisalan yang masyhur,

Mereka menggelarinya dengan yang asam, yaitu cuka Seperti orang yang tidak sampai pada mayang

b. Sikap Tawadhu’nya

Al-Bazzar mengatakan, Dia tidak pernah jemu kepada orang yang meminta fatwa kepadanya, bahkan menyambutnya dengan senyuman, kecintaan, dan kelemahlembutan. Dia berdiri bersama-nya hingga orang itulah yang meninggalkannya. Dia tidak menun-dukkan kepalanya di hadapannya, tidak pula melukai perasaannya, dan tidak pula membuatnya menjauh dengan kata-kata yang tidak mengenakkannya. Bahkan, dia menjawabnya dan memberikan pemahaman kepadanya tentang yang salah dari yang benar dengan lemah lembut dan wajah ceria. Dia senantiasa tawadhu’, baik saat berada di tengah-tengah khalayak maupun saat jauh dari mereka, dalam berdiri dan duduknya, berjalannya, di majelisnya, dan ma-jelis selainnya.

Al-Bazzar mengisahkan dari sebagian sahabatnya, dia me-ngatakan, Saat aku tinggal bersamanya, sungguh dia sangat ber-tawadhu’ dan sangat memuliakanku, hingga dia tidak menyebutku dengan namaku, tapi menggelariku dengan gelar yang paling bagus, menunjukkan akhlak yang mulia kepadaku dan sangat bertawadhu’. Misalnya, ketika kami keluar dari rumahnya dengan niat untuk membaca, maka dia sendiri yang membawa bukunya, dan tidak membiarkan seorang pun dari kami yang membawakan buku-buku tersebut dari gendongannya. Aku pun memberikan alasan kepada-nya terhadap hal itu, karena khawatir dari adab yang buruk, maka dia mengatakan, ‘Seandainya engkau memikulkannya di atas kepalaku, niscaya itu sudah sepatutnya. Ingatlah, aku sedang membawa sesuatu yang di dalamnya terdapat ucapan Rasulullah.’

Dia duduk di bawah kursi (maksudnya duduk lesehan sejajar dengan murid-muridnya), dan membiarkan bagian depan majelis, hingga aku malu karena dia duduk di sana, dan aku kagum ter-hadap ketawadhu’annya yang sangat besar… Inilah keadaannya dalam hal tawadhu’, merendah, dan memuliakan setiap orang yang datang kepadanya, menyertainya, atau bertemu dengannya. Sam-pai-sampai semua orang yang pernah berjumpa dengannya mengi-sahkan darinya berupa ketawadhu’an yang sangat besar itu yang serupa dengan apa yang aku ceritakan, bahkan lebih banyak dari itu. Mahasuci Allah yang telah memberi taufik kepadanya, menja-lankannya di atas perkara-perkara kebajikan, dan menghidupkan-nya….

c. Keberaniannya

Al-Alusi mengatakan,

Adapun keberanian dan jihadnya, maka ini adalah perkara yang sulit diterangkan. Dia, sebagaimana kata al-Hafizh Sirajud-din Abu Hafsh dalam Manaqibnya, ‘Dia adalah orang yang paling pemberani dan paling kuat hatinya. Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih teguh daripadanya, dan tidak pula lebih besar dalam berjihad melawan musuh daripadanya. Dia berjihad di jalan Allah dengan hati, lisan, dan tangannya, serta dia tidak takut mendapat celaan musuh dalam menegakkan agama Allah’.

Lebih dari satu orang telah mengabarkan bahwa apabila Syaikh hadir bersama pasukan kaum Muslimin dalam jihad, ketika dia melihat kelemahan dan ketakutan dari sebagian mereka, maka dia memotivasi dan meneguhkannya, menjanjikannya dengan ke-menangan dan ghanimah, serta menjelaskan kepadanya keutamaan jihad dan mujahidin. Jika dia telah menunggang kuda, maka dia menerjang musuh bak pemberani terbesar, berdiri bak perwira paling teguh, dan menghancurkan musuh karena banyak mencerai-beraikan mereka. Dia menerobos mereka seperti orang yang tidak takut mati. Mereka menuturkan bahwa mereka melihat darinya dalam penaklukan Akka sejumlah perkara dari keberanian yang sulit untuk dilukiskan. Mereka mengatakan, Sungguh sebab penak-lukan kaum Muslimin terhadapnya adalah karena tindakan, saran, dan pandangannya yang bagus. Tatkala Sultan Ibnu Ghazan menguasai Damaskus yang ter-pelihara, Raja al-Kurj datang kepadanya, dan memberikan harta yang banyak kepadanya, dengan syarat dia memberikan kuasa kepadanya untuk menceraiberaikan kaum Muslimin dari penduduk Damaskus.

Ketika kabar itu telah sampai kepada Syaikh, maka dia bang-kit dengan segera, memotivasi kaum Muslimin, memotivasi mereka untuk menyukai keberanian, dan menjanjikan mereka dengan kemenangan, rasa aman, dan hilangnya ketakutan atas jihad yang mereka lakukan. Maka beranjaklah sejumlah orang dari mereka, yaitu para pemuka, pembesar, dan tokoh mereka. Mereka pun pergi bersamanya kepada yang mulia Sultan Ghazan. Ketika dia melihat Syaikh, maka Allah memasukkan kewibawaan yang besar dalam hatinya, hingga dia mendekatkannya darinya dan memper-silahkan duduk, lalu Syaikh mulai berbicara kepadanya (dengan pendapat) yang berbeda dengan pendapatnya berupa memberikan kuasa kepada orang yang terhina, Raja al-Kurj, atas kaum Muslimin. Syaikh juga mengabarkan kepadanya tentang keharaman darah kaum Muslimin, memperingatkan, dan memberi nasihat kepadanya. Dia pun memenuhi ajakan itu dengan penuh kepatuhan. Karena sebab itulah, darah kaum Muslimin tidak tertumpahkan, keturunan mereka terpelihara, dan istri mereka terjaga.

Syaikh Kamaluddin al-Anja mengatakan, Aku hadir bersama Syaikh, lalu dia berbicara kepada Sultan dengan Firman Allah dan sabda RasulNya tentang keadilan dan selainnya dengan meninggi-kan suaranya di hadapan Sultan dan dekat darinya saat berbicara dengannya, bahkan lututnya hampir bersentuhan dengan lutut Sultan. Sementara Sultan menghadap padanya secara total, mende-ngar apa yang dikatakannya, mengarah kepadanya, tidak berpaling darinya. Sesungguhnya Sultan ini, karena sedemikian besarnya kecintaan dan keseganan (kepadanya) yang dimasukkan oleh Allah dalam hatinya, bertanya, ‘Siapakah Syaikh ini? Karena aku tidak pernah melihat orang sepertinya, orang yang lebih teguh hatinya daripadanya, dan pembicaraannya lebih mengena dalam hatiku. Aku tidak pernah melihat diriku lebih patuh kepada seorang pun daripadanya.’ Aku pun mengabarkan keadaannya, ilmu dan amal yang dijalaninya.

Kemudian Syaikh mengatakan kepada juru bahasa, ‘Katakan kepada Ghazan, ‘Engkau menyangka bahwa engkau Muslim, dan engkau memiliki qadhi, imam, syaikh dan para muadzin, sebagai-mana kabar yang telah sampai kepada kami, tapi engkau meme-rangi kami. Sementara ayah dan kakekmu keduanya adalah kafir, dan keduanya tidak melakukan sebagaimana yang engkau lakukan. Keduanya berjanji lalu menepati janjinya, sedangkan engkau ber-janji tetapi engkau berkhianat, berkata-kata tapi tidak engkau tepati, dan engkau berlaku zhalim.’ Kemudian Syaikh keluar dari ha-dapannya dengan penuh kemuliaan dengan keteguhan karena kebaikan niatnya yang shalih, yaitu mengorbankan dirinya untuk menuntut agar darah kaum Muslimin tidak tertumpahkan. Allah pun menyampaikan keinginannya. Ini juga menjadi sebab dibebas-kannya sebagian besar tawanan kaum Muslimin dari tangan mereka, mengembalikan mereka kepada keluarga mereka, dan memelihara istri mereka. Ini adalah keberanian dan keteguhan yang paling besar.

Dia mengatakan, ‘Tidaklah orang ini takut kepada selain Allah kecuali karena penyakit dalam hatinya. Sesungguhnya seorang laki-laki pernah mengaduh kepada Ahmad bin Hanbal tentang rasa takutnya kepada sebagian penguasa, maka Ahmad mengatakan, ‘Jika engkau sehat, niscaya engkau tidak takut kepada siapa pun.’ Maksudnya, ketakutanmu itu karena hilangnya kesehatan dari hatimu.

Seorang pengawal menceritakan tentang peperangan Syaqhab, dia mengatakan, Syaikh berkata kepadaku pada hari peperangan saat kedua kubu saling berhadapan, ‘Wahai fulan, letakkan aku di posisi kematian.’ Aku pun mendahuluinya untuk menghadapi musuh, saat mereka sedang turun seperti air bah yang mana pedang mereka tampak berkilatan di bawah (gelapnya) debu, dan aku katakan kepadanya, ‘Inilah tempat kematian, lakukanlah apa yang engkau kehendaki.’ Dia pun mengangkat pandangannya ke langit, menajamkan pandangannya, dan menggerakkan kedua bibirnya dalam waktu yang lama, kemudian beranjak maju untuk berperang. Setelah itu aku tidak melihatnya hingga Allah memberi-kan kemenangan, dan pasukan kaum Muslimin masuk Damaskus yang terpelihara’.

d. Sikap Santun dan Pemaafnya

Ustadz Nashir bin Abdullah al-Maiman mengatakan, Hati Syaikh penuh dengan kecintaan kepada ilmu, kebenaran dan kebaikan, tidak ada ruang di dalamnya untuk jatah (memanjakan) diri, dan membalas dendam untuknya dan untuk kemaslahatannya. Di sini Anda melihat sikapnya terhadap lawan dan musuhnya yang berusaha dengan segala kemampuan untuk mengganggunya, dan melampaui batas dalam perselisihan mereka dengannya dari ba-tasan-batasan ilmiah menuju konflik pribadi, berkeinginan untuk menghinakannya, menjatuhkan reputasinya, dan mengecilkan kedudukannya. Kita melihat Syaikh menyikapi mereka dengan sikap terpuji yang tumbuh dari hati yang suci lagi bersih. Dia mem-bebaskan dan memaafkan semua orang yang telah menzhalimi dan mengganggunya.

Disebutkan dalam surat yang ditulisnya di Mesir yang dituju-kan kepada saudara-saudaranya di Damaskus, Sesungguhnya Allah telah menunjukkan cahaya dan bukti kebenaran, yang dapat membantah kedustaan pendusta. Aku tidak suka memperoleh ke-menangan dari seseorang disebabkan kedustaan, kezhaliman, dan permusuhannya terhadapku. Sesungguhnya aku telah memaafkan semua Muslim, dan aku menyukai kebaikan untuk setiap kaum Muslimin. Aku menginginkan kebaikan untuk setiap Muslim seba-gaimana aku menginginkannya untuk diriku. Orang-orang yang berdusta dan dan orang-orang yang zhalim di antara mereka sudah mendapatkan pemaafan dariku. Adapun apa yang berhubungan dengan hak-hak Allah, jika mereka bertaubat, maka Allah mene-rima taubat mereka, dan jika tidak mau bertaubat, maka hukum Allah berlaku pada mereka. Seandainya seseorang itu (boleh) diberi ucapan syukur atas keburukan perbuatannya, niscaya aku telah bersyukur kepada orang yang menjadi sebab kasus ini, karena akibat yang ditimbulkannya berupa kebaikan dunia dan akhirat. Tetapi hanya Allah-lah yang berhak diberi rasa syukur atas ke-baikan nikmatNya yang tidaklah menetapkan suatu ketetapan atas orang Mukmin melainkan ketetapan itu lebih baik baginya.

Yang lebih besar daripada itu ialah sikapnya terhadap lawan-lawannya dari kalangan ulama Mesir yang memerintahkan agar memenjarakannya dan berusaha membunuhnya. Tatkala Raja an-Nashir kembali ke Kairo, dan memerintah kembali, maka hal pertama yang dilakukannya ialah meminta Syaikhul Islam datang dari Iskandariyah. Ketika Syaikh tiba kepadanya, maka Raja me-muliakannya dan menyambut kedatangannya dengan sambutan yang hangat, kemudian membawanya ke sudut majelis dan ber-bicara sesaat dengannya.

Ibnu Katsir 5 mengatakan, Aku mendengar Syaikh Taqi-yuddin menyebutkan pembicaraan yang berlangsung antara dirinya dengan Sultan. Ketika keduanya berbicara empat mata di majelis tersebut, dan Sultan meminta fatwa kepada Syaikh tentang meng-hukum mati sebagian qadhi dikarenakan mereka telah mencelanya, dan sebagian mereka mengeluarkan fatwa untuk mencopotnya dari kedudukan sebagai raja, dan membai’at al-Jasyinkir. (Kata Raja), ‘Mereka juga melawanmu dan mengganggumu.’ Raja memotivasi-nya dengan hal itu agar memfatwakan kepadanya untuk meng-hukum mati sebagian dari mereka. Dia hanyalah dendam kepada mereka karena mereka berusaha mengkudetanya dan membai’at al-Jasyinkir. Syaikh pun memahami maksud Sultan, lalu dia mulai memuliakan para qadhi dan ulama, serta mengingkari bila salah seorang dari mereka mendapatkan gangguan. Dia mengatakan kepadanya, ‘Jika engkau membunuh mereka, engkau tidak akan mendapatkan orang-orang semisal mereka sepeninggal mereka.’ Raja mengatakan kepadanya, ‘Mereka telah menyakitimu, dan mereka ingin membunuhmu berkali-kali.’

Syaikh mengatakan, ‘Siapa yang menyakitiku, maka dia sudah dimaafkan. Siapa yang menyakiti Allah dan RasulNya, maka Allah akan membalas mereka, dan aku tidak membela diriku.’ Dia tetap demikian hingga Sultan bersikap santun dan memaafkan kesalahan mereka. Dia (Ibnu Katsir) mengatakan, Qadhi Malikiyyah, Ibnu Makhluf mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat orang seperti Ibnu Tai-miyah. Kami merusaknya tapi kami tidak mampu melakukannya. Sebaliknya, ketika dia mampu membalas kami, dia justru memaaf-kan kami dan berhujjah membela kami’.

7. UJIAN YANG DIHADAPI SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Asy-Syaukani mengatakan, Syaikh mendapatkan goncangan dan ujian serta sejumlah fitnah dari orang-orang di zamannya berkali-kali dalam kehidupannya. Manusia terbagi menjadi dua golongan berkenaan dengan urusannya: Pertama, sebagian orang dari mereka adalah orang yang lalai dari kadar yang menjadi hak-nya, bahkan menuduhnya dengan perkara-perkara besar. Kedua, sebagian lainnya dari mereka berlebih-lebihan dalam menyifatinya, melampaui batas terhadapnya, dan fanatik kepadanya, sebagai-mana golongan pertama yang bersikap antipati terhadapnya. Ini adalah kaidah yang berlaku dan terjadi pada semua ulama yang mendalami berbagai pengetahuan ilmiah, mengungguli orang-orang di zamannya, dan mematuhi al-Qur`an dan Sunnah. Karena sudah pasti dia akan ditentang oleh orang-orang yang bersikap lalai terhadapnya, dan dia akan mendapatkan ujian demi ujian dari mereka. Kemudian urusannya menjadi mulia dan perkataannya menjadi utama, serta dengan goncangan itu, dia menjadi buah bibir pada generasi mendatang, dan ilmunya mendapatkan bagian yang tidak didapatkan oleh selainnya. Demikianlah keadaan imam ini; karena setelah kematiannya, manusia mengetahui kadar kedu-dukannya, dan semua lidah bersepakat untuk memujinya, kecuali orang-orang yang tidak perlu diperhitungkan. Karya-karyanya tersebar, dan pendapat-pendapatnya menjadi masyhur. Syaikhul Islam menghadapi banyak ujian bertubi-tubi. Nyaris tidak berlalu padanya selang satu masa melainkan dia menghadapi ujian, mengikuti peperangan, terjadi silang sengketa antara dia dengan sebagian mereka, atau perdebatan, hingga kehidupannya ditutup di penjara Damaskus dalam keadaan bersabar lagi meng-harapkan pahala.

Sungguh dia telah dihalangi untuk menulis kitab dan mem-berikan faidah kepada umat, maka dia menetapi tilawah al-Qur`an, lalu dia mampu mengkhatamkan delapan puluh satu kali. Di akhir khatamannya, dia sampai pada FirmanNya,

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi (penuh keba-hagiaan) di sisi Rabb Yang Berkuasa. (al-Qamar: 54-55).

Di antara ujian yang dihadapi Syaikhul Islam, ialah bahwa penduduk Hamah mengajukan pertanyaan kepada Syaikh pada 698 H, lalu Syaikh menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban yang dikenal dengan al-Fatwa al-Hamawiyyah al-Kubra, di mana dia berkomitmen pada metode salaf berkenaan dengan al-Asma` wa ash-Shifat dan jauh dari takwil dan ta’thil. Namun kedengkian telah terpatri dalam hati banyak fuqaha, lalu mereka melaporkannya kepada sebagian pejabat. Tetapi Tartar terus-menerus mendesak mereka, sehingga para pejabat dan fuqaha melarikan diri, sedangkan Syaikh tetap menghadapi mereka. Tatkala Allah memberikan kemenangan (kepada kaum Muslimin) atas Tartar, urusan hamba telah kondusif, dan Syaikh telah kembali memberikan faidah dan mengarang, maka kedengkian bergerak kembali dalam hati para pendengki, karena tingginya kedudukan Syaikh di mata masyarakat umum dan penguasa secara sama.

Termasuk di antaranya, ialah apa yang berlangsung antara dia dengan Abu Hayyan di Kairo pada 700 H. Dahulu Abu Hayyan menyambut Syaikhul Islam dengan sambutan yang baik, dan mengatakan, Mataku tidak pernah melihat seperti orang ini. Dia memujinya dengan bait-bait dari syairnya, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

Kemudian berlangsug pembicaraan di antara keduanya, dan nama Sibawaih disebutkan, lalu Ibnu Taimiyah mengkritik pedas tentang Sibawaih, maka Abu Hayyan menjauhinya dan memutus-kan hubungan dengannya. Abu Hayyan menjadikan hal itu sebagai dosa yang tidak termaafkan. Dia ditanya tentang sebabnya, maka dia mengatakan, Aku berdebat dengannya tentang sesuatu dari Bahasa Arab, lalu aku mengutarakan ucapan Sibawaih kepadanya, maka dia mengatakan, ‘Sibawaih bukanlah Nabi Nahwu, dan tidak pula ma’shum. Bahkan dia melakukan kekeliruan dalam al-Kitab di delapan puluh persoalan yang tidak engkau pahami’.

Itulah sebab dirinya memutuskan hubungan dengan Syaikh, dan menyebutnya dalam Tafsir al-Bahr (al-Muhith) dengan segala keburukan, demikian pula dalam Mukhtashar al-Bahr yaitu an-Nahr.

Termasuk di antaranya, apa yang terjadi padanya disebabkan kelompok al-Ahmadiyyah ar-Rifa’iyyah pada 705 H. Mereka ini biasa memakai kalung besi di leher mereka dan mereka memakai minyak khusus, kemudian mereka masuk ke dalam api dalam keadaan tidak terbakar. Hal itu mereka lakukan untuk membuat perkara (ajaib) di luar kebiasaan di hadapan orang-orang awam dari kalangan kaum Muslimin.

Syaikh mengingkari perbuatan mereka dengan keras, hingga mereka mengadukannya kepada wakil penguasa, meminta agar menghentikan Syaikh dari mengusik mereka dan membiarkan apa yang mereka lakukan. Syaikh mengatakan, Ini tidak mungkin. Setiap orang harus masuk di bawah ketentuan al-Qur`an dan Sunnah, baik ucapan maupun perbuatan. Barangsiapa keluar darinya, maka dia wajib diingkari. Barangsiapa di antara mereka yang mau masuk api, silakan terlebih dulu masuk ke pemandian dan mencuci tubuhnya dengan baik, kemudian setelah itu masuk ke dalam api, jika memang dia benar. Andaikata ada seseorang dari ahli bid’ah yang bisa masuk ke dalam api setelah mandi, maka itu tidak menunjukkan kebaikan, atau karomahnya, tetapi ini ada-lah salah satu ihwal yang menyelisihi syariat, jika pelakunya berada di atas Sunnah. Maka bagaimana halnya bila menyelisihinya?

Akhirnya (keluar) keputusan agar mereka melepaskan kalung besi dari leher mereka, dan bahwa siapa yang keluar dari al-Qur`an dan Sunnah, maka lehernya ditebas.

Kemudian pada tahun yang sama datang surat dari Sultan supaya membawa Syaikh ke Kairo, maka Syaikh menuju ke sana dengan menunggang unta milik biro pos, dan kaum Muslimin keluar berduyun-duyun sambil menangis lagi bersedih melepaskan kepergiannya. Syaikh adalah orang yang percaya, yang berharap, dan berangan-angan. Ketika sampai di Kairo, diadakan majelis untuknya di sebuah benteng, di mana berkumpul para pemimpin, pembesar, pejabat negara, para qadhi dan fuqaha. Mereka tidak memberikan kesem-patan berbicara kepadanya, dan yang bertugas menyampaikan dakwaan kepada Syaikh adalah Zainuddin bin Makhluf, qadhi Malikiyyah. Lalu Syaikh memulai pembicaraannya dengan memuji Allah dan menyanjungNya, maka dikatakan kepadanya, Jawab-lah, dan jangan berpidato. Syaikh pun tahu bahwa ini pengadilan, bukan perdebatan, maka Syaikh mengatakan, Siapa yang akan menjadi hakim terhadapku? Dikatakan kepadanya, Al-Qadhi al-Maliki (Ibnu Makhluf). Syaikh mengatakan kepadanya, Bagaimana mungkin engkau menjadi hakim terhadapku sedangkan engkau adalah lawanku.

Akhirnya, Syaikh ditahan di menara selama beberapa hari. Setelah itu, pada malam Idul Fitri, dia dipindahkan ke penjara yang dikenal dengan penjara al-Jubb, dan dia dipenjara bersama dua orang saudaranya, Syarafuddin dan Zainuddin. Dia mendekam dalam penjara sekitar 18 bulan. Hingga ketika pada bulan Rabi’ul Awwal 707 H., Hisamuddin Muhanna bin Isa, Amir Arab, datang ke Mesir, dan masuk ke dalam penjara, lalu mengeluarkan Syaikh sendiri setelah meminta izin terlebih dulu untuk mengeluarkannya. Syaikh pun keluar, lalu bermukim di Kairo untuk mengajar-kan kebaikan dan menyebarkan ilmu. Orang-orang pun berkum-pul padanya, hingga kelompok Shufiyyah melaporkannya kepada qadhi. Mereka mengutarakan bahwa Syaikh mencela Ibnu Arabi dan para tokoh Tasawuf lainnya dalam ilmu kalam. Mereka itu, menurut kaum Sufi, adalah orang suci lagi disucikan yang tidak boleh disentuh. Akhirnya, Syaikh diberi beberapa pilihan: bermu-kim di Damaskus atau bermukim di Iskandariyah dengan sejumlah syarat, ataukah memilih dipenjara. Dia pun memilih dipenjara daripada menerima syarat-syarat tersebut, dan dia masuk penjara pada tahun (yang sama) ketika keluar darinya. Para sahabat Syaikh menganjurkan agar dia mau menerima tawaran melakukan perjalanan ke Damaskus untuk memenuhi apa yang mereka syaratkan kepadanya. Dia pun memenuhinya dan naik kendaraan menuju ke sana. Tetapi musuh-musuhnya menolak kecuali bila dia dalam genggaman dan dalam pengawasan mereka. Kemudian datang perintah untuk mengembalikan Syaikh ke Kairo, lalu dia dikembalikan keesokan harinya ke sana, dan dikirimkan ke tahanan para qadhi. Dia diizinkan didampingi oleh orang yang bisa membantunya. Sebenarnya, Sultan an-Nashir bin Qalawun mengetahui kedudukan Syaikh lagi mencintainya, tetapi dia pada masa itu telah mundur dari jabatannya, dan kesultanan dijabat oleh Raja al-Muzhaffar Bibars al-Jasyinkir. Dia adalah murid Nashr al-Manbiji ash-Shufi yang telah tumbuh dari meminum pendapat-pendapat Ibnu Arabi. Karena itu, Syaikhul Islam menjadi musuh politik baginya dalam masalah apa pun, karena dia memandang-nya sebagai pembela an-Nashir bin Qalawun, dan Syaikh berpen-dapat mengenai perkara-perkara I’tiqad (akidah) yang berbeda dengan pendapat Sultan Bibars dan gurunya, al-Manbiji ash-Shufi.

Akhirnya, diputuskanlah untuk mengasingkan Syaikh ke Iskandariyah pada malam terakhir dari bulan Shafar 709 H. dan dia berada di sana sekitar delapan bulan, bermukim di menara yang bagus lagi bersih yang memiliki dua jendela, salah satunya mengarah ke laut, siapa saja bisa menemuinya. Para pembesar, fuqaha dan para tokoh seringkali datang kepadanya untuk mem-bahas bersamanya dan belajar darinya.

Al-Alusi mengatakan, Tatkala Syaikh masuk penjara, dia melihat para tawanan sibuk dengan aneka macam permainan yang melalaikan mereka dari kewajiban mereka, seperti catur dan dadu, beserta menyia-nyiakan shalat, maka Syaikh mengingkari perbuatan mereka dan memerintahkan mereka agar senantiasa mengerjakan shalat dan menghadap kepada Allah dengan amal-amal shalih, tasbih, istighfar, dan doa. Dia juga mengajarkan kepada mereka dari Sunnah apa yang mereka butuhkan, memotivasi mereka untuk mengerjakan kebajikan, dan menganjurkan mereka kepadanya, sehingga penjara menjadi sarat dengan ilmu dan agama, yang lebih baik daripada banyak sudut (tempat mojok kelompok tertentu), ikatan (persekongkolan), gang dan sekolahan. Dampaknya, banyak dari tawanan, apabila dibebaskan, maka mereka memilih tinggal bersamanya, dan banyak mereka sering bolak-balik kepadanya hingga penjara penuh dengan mereka.

Syaikh tetap berada di Iskandariyah hingga Sultan an-Nashir kembali ke singgasana Mesir pada hari raya Idul Fitri 709 H. lalu dia memerintahkan agar Syaikh dibebaskan, dan membawanya ke Kairo dalam keadaan terhormat. Syaikh pun keluar dari Iskanda-riyah menuju ke Kairo disertai sejumlah orang dari penduduknya untuk melepaskan kepergiannya, dan mereka memohon kepada Allah agar mengembalikan Syaikh kepada mereka. Saat itu adalah waktu yang disaksikan, dan dia sampai di Kairo pada tanggal 18 Syawal, dan berkumpul dengan Sultan pada hari Jum’at, tanggal 24 Syawal. Di Kairo Syaikh tidak henti-hentinya menyebarkan ilmu dan memberantas bid’ah, hingga pergi bersama pasukan Mesir untuk berperang dengan Tartar. Tatkala dia sampai bersama mereka ke Asqalan, dia pergi ke Baitul Maqdis. Dari sana dia pergi ke Damaskus melewati jalan Ajlun, dan tiba di Damaskus di hari pertama dari bulan Dzulqa’dah 712 H. Secara keseluruhan, dia telah mening-galkan Damaskus selama tujuh tahun lebih tujuh Jum’at. Syaikhul Islam kembali ke Syam, dan kembali menyebarkan ilmu, menulis kitab-kitab, dan memberikan fatwa, baik dalam bentuk kata-kata maupun tulisan, dia berkeliling bersama al-Qur`an dan Sunnah kemanapun keduanya berkeliling.

Syaikh berfatwa dalam berbagai masalah fikih sesuai ijtihad-nya. Dia berfatwa mengenai sumpah dengan talak bahwa itu tidak ditetapkan dan tidak jatuh talak karenanya. Dia membedakannya dengan talak mu’allaq (bersyarat), dan memberikan penjelasan. Dengan hal itu, dia telah menyelisihi pendapat empat imam pendiri madzhab, dan para fuqaha dari kalangan pengikut madzhab-madz-hab tersebut mengingkari fatwa Syaikh. Mereka menunjukkan pengingkaran mereka secara terang-terangan, dan itu terjadi pada 718 H. Qadhi Qudhah Syam mengisyaratkan agar Syaikh berhenti dari berfatwa tentang masalah ini –tentang masalah sumpah de-ngan talak–, maka Syaikh pun menerimanya. Isyarat yang melarang Syaikh dari berfatwa tentang masalah ini juga datang dari Sultan, dan hal itu diumumkan di dalam negeri. Tetapi Syaikh berhenti sebentar, kemudian kembali berfatwa sehingga tidak jatuh dalam dosa karena menyembunyikan ilmu.

Sebuah majelis diadakan di Dar al-Hikam di hadapan wakil penguasa, yang dihadiri para qadhi, fuqaha, dan para mufti dari empat madzhab. Mereka mencela Syaikh, tanpa mendebatnya. Celaan sekaligus harapan terjadi berulang-ulang, tapi hal itu tidak berguna sedikit pun. Akhirnya, diputuskan untuk memenjarakan-nya atas perintah wakil penguasa, dan penahanannya berlangsung selama lima bulan lebih 18 hari, dimulai dari tanggal 22 Rajab 720 H. dan dikeluarkan darinya atas perintah Sultan pada tanggal 10 Muharram 721 H.

Syaikh pun mengajar kembali. Hanya saja mata yang me-nunggu dan hati yang dendam terus mengintainya. Orang-orang yang berkonspirasi terhadapnya telah mengadakan kesepakatan, dan mereka menulis surat kepada Sultan, sehingga datang perintah ke Damaskus pada tanggal tujuh Sya’ban 726 H. untuk memenjara-kan Syaikh di sebuah penjara, yaitu penjara Damaskus. Di penjara itu telah dikosongkan satu ruangan untuk Syaikh, dan saudaranya, Zainuddin tinggal bersamanya untuk melayani-nya atas perintah Sultan. Sementara murid-muridnya dan para pendukungnya ditahan sementara waktu, dan sebagian mereka diberi hukuman dengan dinaikkan di atas kendaraan dan diumum-kan tentang ihwal mereka. Kemudian mereka dibebaskan, kecuali murid pilihannya, Ibnu al-Qayyim.

Syaikh merasa gembira dengan dipenjara kali ini. Dia bisa fokus membaca di penjaranya, menulis sejumlah buku dan mengi-rimkannya ke luar penjaranya, hingga datang rekomendasi dari Sultan agar mengeluarkan kitab, kertas, tinta dan pena dari sisinya. Dia dilarang membaca secara total, dan hal itu terjadi pada tanggal 9 Jumadil Akhir 728 H.

Perkara Syaikh tidak berlangsung lama, karena dia sakit di penjaranya, dan masa sakitnya lebih dari 20 hari. Al-Wazir (menteri) Syamsuddin meminta izin masuk kepadanya untuk menjenguknya, dan Syaikh pun memberi izin kepadanya. Ketika duduk di sisinya, dia menyampaikan udzur dari dirinya dan me-mintanya agar memaafkan segala kesalahannya.

Syaikh menjawabnya bahwa dirinya telah memaafkan segala kesalahannya, karena dia melakukan hal tersebut hanya ikut-ikutan dalam keadaan berudzur, dan tidak melakukannya untuk kepen-tingan dirinya. Syaikh mengatakan, Aku telah membebaskan setiap orang dari segala yang terjadi antara aku dengannya, kecuali siapa saja yang menjadi musuh bagi Allah dan RasulNya. Kemudian Syaikh wafat pada malam Senin, tanggal 20 Dzul-qa’dah 728 H. Pada saat sebelumnya buku-bukunya telah dikeluar-kan, dia memfokuskan diri membaca Kitabullah, dan mengkhatamkan sekali khatam pada tiap-tiap sepuluh hari.

8. GURU DAN MURID SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Gurunya:
1. Zainuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Abd ad-Da`im, al-Imam, al-Muhaddits, Sanad zaman, yang kepadanyalah berpucak ilmu sanad.
2. Taqiyyuddin Abu Muhammad Isma’il bin Ibrahim bin Abu al-Yusr at-Tanukhi, seorang Musnid yang masyhur.
3. Aminuddin Abu Muhammad al-Qasim bin Abu Bakar bin Qasim bin Ghanimah al-Arlibi.
4. Syamsuddin Abu al-Ghana`im al-Muslim bin Muhammad bin al-Muslim bin Makki ad-Dimasyqi.
5. Ayahnya, Syihabuddin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyah.
6. Syamsuddin Abu Muhammad Abdurrahman bin Abu Umar Muhammad bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi, penulis asy-Syarh al-Kabir.
7. Afifuddin Abu Muhammad Abdurrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Alitsi al-Hanbali.
8. Fakhruddin Abu al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdul Wahid bin Ahmad al-Bukhari.
9. Majduddin Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Utsman bin al-Muzhaffir bin Hibatullah bin Asakir ad-Dimasyqi.
10. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Qawi bin Badran bin Abdullah al-Mardawi al-Maqdisi.

Muridnya:
1. Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin al-Manja bin Utsman bin As’ad bin al-Manja at-Tanukhi ad-Dimasyqi.
2. Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf bin az-Zaki Abdurrahman bin Yusuf bin Ali al-Mizzi.
3. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi.
4. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah ad-Dimasyqi adz-Dzahabi.
5. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakar Ibnu Ayyub, yang masyhur dengan Ibnu Qayyim al-Jauziyah.
6. Shalahuddin Abu Sa’id Khalil bin al-Amir Saifuddin Kai-kaldi al-Ala`i ad-Dimasyqi.
7. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Muflih bin Muhammad bin Mufarrij al-Maqdisi.
8. Syarafuddin Abu al-Abbas Ahmad bin al-Hasan bin Abdul-lah bin Abu Umar bin Muhammad bin Abu Qudamah.
9. ‘Imaduddin Abu al-Fida` Isma’il bin Umar bin Katsir al-Bashri al-Qurasyi ad-Dimasyqi.
10. Taqiyuddin Abu al-Ma’ali Muhammad bin Rafi’ bin Hijris bin Muhammad ash-Shamidi as-Salami.

9. PENINGGALAN ILMIAH SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Ini banyak sekali lagi beragam, di mana biografi ringkas ini tidak bisa menyebutkannya secara keseluruhan, dan kami hanya menyebutkan karya paling masyhur yang sudah dipublikasikan,
1. Majmu’ al-Fatawa, tiga puluh tujuh jilid.
2. Al-Fatawa al-Kubra, lima jilid.
3. Dar`u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql, sembilan jilid.
4. Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah.
5. Iqtidha` ash-Shirath al-Mustaqim Mukhalifah Ashhab al-Jahim.
6. Ash-Sharim al-Masyhur ‘ala Syatim ar-Rasul.
7. Ash-Shafadiyyah, dua jilid.
8. Al-Istiqamah, dua jilid.
9. Al-Furqan baina Auliya` ar-Rahman wa Auliya` asy-Syaithan.
10. Al-Jawab ash-Shahih Liman Baddala Din al-Masih, dua jilid.
11. As-Siyasah asy-Syar’iyyah li ar-Ra’i wa ar-Ra’iyyah.
12. Al-Fatwa al-Hamawiyyah al-Kubra.
13. At-Tuhfah al-‘Iraqiyyah fi al-A’mal al-Qalbiyyah.
14. Naqdh al-Manthiq.
15. Amradh al-Qulub wa Syifa`uha.
16. Qa’idah Jaliyyah fi at-Tawassul wa al-Wasilah. 17. Al-Hasanah wa as-Sayyi`ah.
18. Muqaddimah fi Ilm at-Tafsir.

10. WAFAT SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan yang ringkasnya, Kematiannya disepakati terjadi pada waktu sahur (menjelang fajar) malam Senin tersebut, yakni malam 20 Dzulqa’dah 728 H. Kematiannya diumumkan oleh penyeru penjara dari menara di sana, dan para penjaga juga membicarakannya di atas menara-menara. Tidaklah manusia memasuki pagi hari melainkan mereka telah mendengar berita dan perkara besar ini, lalu mereka bersegera berkumpul di sekitar penjara dari segala tempat yang memungkinkan mereka datang darinya. Negara kebingungan apa yang harus mereka lakukan. Lalu datanglah ash-Shahib Syamsuddin Gabriel, pejabat penjara, dan melayatnya di sana. Dia duduk di dekatnya, dan membuka pintu penjara untuk orang-orang yang ingin masuk, yaitu orang-orang khusus, sahabat dan handai tolan. Maka berkum-pullah di sisi Syaikh, di ruangannya, sejumlah sahabat dekatnya dari negara dan selain mereka dari penduduk negeri

This entry was published on July 24, 2014 at 1:53 am and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: