Kitab thaharah

Kitab Wudhu Bab 33 Air sisa manusia dan anjing
      Rate This

33 – باب الْمَاءِ الَّذِى يُغْسَلُ بِهِ شَعَرُ الإِنْسَانِ

وَكَانَ عَطَاءٌ لاَ يَرَى بِهِ بَأْسًا أَنْ يُتَّخَذَ مِنْهَا الْخُيُوطُ وَالْحِبَالُ ، وَسُؤْرِ الْكِلاَبِ وَمَمَرِّهَا فِى الْمَسْجِدِ . وَقَالَ الزُّهْرِىُّ إِذَا وَلَغَ فِى إِنَاءٍ لَيْسَ لَهُ وَضُوءٌ غَيْرُهُ يَتَوَضَّأُ بِهِ . وَقَالَ سُفْيَانُ هَذَا الْفِقْهُ بِعَيْنِهِ ، يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى ( فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا ) وَهَذَا مَاءٌ ، وَفِى النَّفْسِ مِنْهُ شَىْءٌ ، يَتَوَضَّأُ بِهِ وَيَتَيَمَّمُ

Bab 33 Air yang Digunakan Mencuci Rambut Manusia

Adalah ‘Athoo’ berpendapat tidak masalah untuk menggunakannya sebagai benang dan tali.

(Bab) Air liur anjing dan Lalu lalangnya anjing di masjid.

Az-Zuhriy berkata : ‘jika Anjing menjilati bejana, lalu tidak ada lagi air wudhu selain air dalam bejana tersebut, maka berwudhulah dari air bejana tersebut’.

Sufyan berkata : ‘ini adalah fiqih dengan dhohir ayat, Allah Ta’alaa berfirman : “lalu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah”. Dan air bejana yang dijilati anjing tadi adalah air, namun dalam diriku ada sesuatu, hendaknya ia berwudhu dengan air tersebut lalu bertayamum’.

 

Penjelasan :

 

Imam Bukhori seolah-olah berpendapat bahwa air bekas yang dicucikan ke rambut adalah suci, buktinya beberapa ulama membolehkan menggunakan rambut untuk dijadikan benang atau tali. Seandainya rambut najis, tentu air yang bercampur dengannya akan menjadi najis, namun jika rambut suci, tentu saja airnya menjadi suci. Inilah yang sering diistilahkan oleh ulama Fiqih dengan air Musta’mal.

 

Berkaitan hukum air musta’mal ini, Al Hafidz dalam “Al Fath” berkata :

أَشَارَ الْمُصَنِّف إِلَى أَنَّ حُكْمه الطَّهَارَة لِأَنَّ الْمُغْتَسِل قَدْ يَقَع فِي مَاء غُسْله مِنْ شَعْره ، فَلَوْ كَانَ نَجِسًا لَتَنَجَّسَ الْمَاء بِمُلَاقَاتِهِ ، وَلَمْ يُنْقَل أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَجَنَّبَ ذَلِكَ فِي اِغْتِسَاله ، بَلْ كَانَ يُخَلِّل أُصُول شَعْره كَمَا سَيَأْتِي ، وَذَلِكَ يُفْضِي غَالِبًا إِلَى تَنَاثُر بَعْضه فَدَلَّ عَلَى طَهَارَته ، وَهُوَ قَوْل جُمْهُور الْعُلَمَاء ، وَكَذَا قَالَهُ الشَّافِعِيّ فِي الْقَدِيم ، وَنَصَّ عَلَيْهِ فِي الْجَدِيد أَيْضًا وَصَحَّحَهُ جَمَاعَة مِنْ أَصْحَابه وَهِيَ طَرِيقَة الْخُرَاسَانِيِّينَ ، وَصَحَّحَ جَمَاعَة الْقَوْل بِتَنْجِيسِهِ وَهِيَ طَرِيقَة الْعِرَاقِيِّينَ

“Imam Bukhori mengisyaratkan bahwa hukum air (bekas cucian rambut) itu suci, karena orang yang mandi kebanyakan mengguyurkan air ke rambutnya, sekiranya hal tersebut najis, tentu air yang bercampur dengannya akan ikut najis, tidak dinukil bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salam tidak menggunakan air bekas rambut tadi ketika mandi, bahkan Beliau menggosok-gosok pangkal rambutnya, sebagaimana haditsnya akan datang, yang demikian umumnya akan mencampuri sebagian air lainnya, maka hal ini menunjukan atas kesuciannya, ini adalah pendapat mayoritas ulama, demikian juga pendapat Imam Syafi’I pada madzhab qodimnya. Dan ternashkan juga pada pendapat Imam Syafi’I yang baru, lalu dishahihkan oleh kebanyakan sahabatnya dan ini adalah riwayat dari Khuroosaniyyiin, dan sebagian sahabatnya lagi menshahihkan pendapat Syafi’I yang mengatakan najis dari riwayatnya ‘Irooqiyyiin”.

 

Imam Syaukani dalam “Nailul Author” menyebutkan perselisihan pendapat tentang air musta’mal, kata beliau :

وَقَدْ اسْتَدَلَّ الْجُمْهُورُ بِصَبِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِوَضُوئِهِ عَلَى جَابِرٍ وَتَقْرِيرِهِ لِلصَّحَابَةِ عَلَى التَّبَرُّكِ بِوَضُوئِهِ ، وَعَلَى طَهَارَةِ الْمَاءِ الْمُسْتَعْمَلِ لِلْوُضُوءِ ، وَذَهَبَ بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ وَأَبُو الْعَبَّاسِ إلَى أَنَّهُ نَجِسٌ ، وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ بِأَدِلَّةٍ : مِنْهَا حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ بِلَفْظِ : { لَا يَغْتَسِلَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ } . وَفِي رِوَايَةٍ : { لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ } وَسَيَأْتِي قَالُوا : وَالْبَوْلُ يُنَجِّسُ الْمَاءَ فَكَذَا الِاغْتِسَالُ ؛ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ نَهَى عَنْهُمَا جَمِيعًا . وَمِنْهَا الْإِجْمَاعُ عَلَى إضَاعَتِهِ وَعَدَمِ الِانْتِفَاعِ بِهِ ، وَمِنْهَا أَنَّهُ مَاءٌ أُزِيلَ بِهِ مَانِعٌ مِنْ الصَّلَاةِ فَانْتَقَلَ الْمَنْعُ إلَيْهِ كَغُسَالَةِ النَّجِسِ الْمُتَغَيِّرَةِ ، وَيُجَابُ عَنْ الْأَوَّلِ بِأَنَّهُ أَخَذَ بِدَلَالَةِ الِاقْتِرَانِ وَهِيَ ضَعِيفَةٌ ، وَبِقَوْلِ أَبِي هُرَيْرَةَ يَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلًا كَمَا سَيَأْتِي ، فَإِنَّهُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ النَّهْيَ إنَّمَا هُوَ عَنْ الِانْغِمَاسِ لَا عَنْ الِاسْتِعْمَالِ ، وَإِلَّا لَمَا كَانَ بَيْنَ الِانْغِمَاسِ وَالتَّنَاوُلِ فَرْقٌ . وَعَنْ الثَّانِي بِأَنَّ الْإِضَاعَةَ لِإِغْنَاءِ غَيْرِهِ عَنْهُ لَا لِنَجَاسَتِهِ ، وَعَنْ الثَّالِثِ ، بِالْفَرْقِ بَيْنَ مَانِعٍ هُوَ النَّجَاسَةُ وَمَانِعٍ هُوَ غَيْرُهَا ، وَبِالْمَنْعِ مِنْ أَنَّ كُلَّ مَانِعٍ يَصِيرُ لَهُ بَعْدَ انْتِقَالِهِ الْحُكْمُ الَّذِي كَانَ لَهُ قَبْلَ الِانْتِقَالِ ، وَأَيْضًا هُوَ تَمَسُّكٌ بِالْقِيَاسِ فِي مُقَابَلَةِ النَّصِّ ، وَهُوَ فَاسِدُ الِاعْتِبَارِ ، وَيَلْزَمُهُمْ أَيْضًا تَحْرِيمُ شُرْبِهِ وَهُمْ لَا يَقُولُونَ بِهِ . وَمِنْ الْأَحَادِيثِ الدَّالَّةِ عَلَى مَا ذَهَبَ إلَيْهِ الْجُمْهُورُ حَدِيثُ أَبِي جُحَيْفَةَ عِنْدَ الْبُخَارِيِّ قَالَ : { خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ ، فَأُتِيَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ فَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ } وَحَدِيثُ أَبِي مُوسَى عِنْدَهُ أَيْضًا قَالَ : { دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ فِيهِ مَاءٌ فَغَسَلَ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ فِيهِ وَمَجَّ فِيهِ ثُمَّ قَالَ لَهُمَا يَعْنِي أَبَا مُوسَى وَبِلَالًا اشْرَبَا مِنْهُ وَأَفْرِغَا عَلَى وُجُوهِكُمَا وَنُحُورِكُمَا } وَعَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ عِنْدَهُ أَيْضًا قَالَ : { ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ أَيْ مَرِيضٌ ، فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْت مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْت خَلْفَ ظَهْرِهِ } الْحَدِيثَ . فَإِنْ قَالَ الذَّاهِبُ إلَى نَجَاسَةِ الْمُسْتَعْمَلِ لِلْوُضُوءِ إنَّ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ غَايَةُ مَا فِيهَا الدَّلَالَةُ عَلَى طَهَارَةِ مَا تَوَضَّأَ بِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَعَلَّ ذَلِكَ مِنْ خَصَائِصِهِ . قُلْنَا : هَذِهِ دَعْوَى غَيْرُ نَافِقَةٍ ، فَإِنَّ الْأَصْلَ أَنَّ حُكْمَهُ وَحُكْمَ أُمَّتِهِ وَاحِدٌ إلَّا أَنْ يَقُومَ دَلِيلٌ يَقْضِي بِالِاخْتِصَاصِ لَا دَلِيلَ . وَأَيْضًا الْحُكْمُ بِكَوْنِ الشَّيْءِ نَجِسًا حُكْمٌ شَرْعِيٌّ يَحْتَاجُ إلَى دَلِيلٍ يَلْتَزِمُهُ الْخَصْمُ فَمَا هُوَ

“Mayoritas ulama berdalil dengan  basuhan Nabi r dengan air wudhu kepada Jabir untuk mewudhuinya dan persetujuan Beliau kepada sahabat yang mengambil berkah dari bekas air wudhu Nabi r, menunjukan bahwa air musta’mal hukumnya suci. Sebagian Hanafiyyah dan Abul Abbaas berpendapat bahwa air tersebut najis. Mereka berdalil dengan beberapa hadits, diantaranya :

1.     Hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu, bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Janganlah kalian mandi di air yang diam, sedangkan ia dalam keadaan junub”.

2.     Dalam lafadz lain : “Janganlah kalian kencing di air yang diam, lalu mandi daripadanya”.

Mereka beristidlal : ‘Kencing menajiskan air, demikian juga mandi, karena Nabi r melarang dari keduanya bersamaan. Diantaranya lagi adalah kesepakatan untuk membuangnya dan tidak menggunakannya, diantaranya lagi air yang telah berubah dengannya terlarang untuk mengerjakan sholat, maka berpindah larangan kepadanya seperti basuhan-basuhan yang najis telah merubahnya.

Dalil mereka dapat dijawab, yang pertama mengambil dalil penggabungan antara air kencing dan air bekas mandi adalah sesuatu yang lemah, dengan ucapan Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu, (orang yang mandi dalam keadaan junub tadi) hendaknya mandi dengan menciduk airnya, sebagaimana akan datang haditsnya. Maka ini menunjukan yang terlarang adalah mandi dengan meyeburkan diri ke kolam bukan menggunakan air sisa tersebut, seandainya tidak begitu, maka tidak ada perbedaan antara menyeburkan diri dengan menciduk airnya. Yang kedua, perkara tidak menggunakannya kerena cukup dengan air yang lain, bukan karena najis. Yang ketiga, berbeda antara yang dilarang itu adalah najis dengan yang dilarang itu adalah karena alasan lainnya. Berkaitan larangan bahwa semua yang terlarang itu menjadi berubah hukumnya setelah berpindah, bukan ketika sebelum berubah dan juga ini adalah berpegang dengan qiyas yang menyelisihi nash, maka tidak sah pendalilannya, hal ini melazimkan mereka untuk mengatakan haramnya air minum, namun mereka tidak pernah mengatakannya.

Diantara hadits yang menjadi hujjah bagi mayoritas ulama adalah :

1.    hadits Abi Juhaifah dalam riwayat Bukhori, beliau berkata : ‘kami pergi bersama Rasulullah r dalam suatu perjalanan, lalu didatangkan air wudhu, maka Beliau berwudhu, orang-orang pun berebutan mengambil bekas wudhu, lalu diusap-usapkan ke tubuh mereka’.  

2.    Hadits Abu Musa Rodhiyallahu anhu dalam riwayat Bukhori, beliau berkata : ‘Nabi r meminta wadah air, lalu beliau membasuh tangannya, wajahnya dan menetes air darinya, lalu berkata kepada keduanya yakni Abu Musa dan Bilal, minumlah darinya dan basuhkan di wajah dan leher kalian’.

3.    Dari As-Saib bin Yazid dalam riwayat Bukhori juga, beliau berkata : ‘aku dan bibiku menemui Nabi r, lalu berkata : ‘wahai Rasulullah, keponakanku (maksudnya Saib) sakit, maka Beliau mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan bagiku, lalu Beliau berwudhu, maka aku minum dari bekas wudhunya, kemudian aku berdiri dibelakang punggungnya’’.

Jika orang yang berpendapat najisnya air musta’mal bekas wudhu berkata, sesungguhnya hadits-hadits tersebut yang menunjukan sucinya air bekas wudhunya Nabi r, kemungkinan adalah kekhususan Beliau, maka kami menjawab : ‘klaim tersebut tidak benar, karena pada asalnya hukum Beliau dengan hukum umatnya adalah satu, kecuali jika ada dalil yang menunjukan kekhususannya dan dalam hal ini tidak ada dalil tersebut, begitu juga hukum bahwa sesuatu itu najis adalah hukum syar’I yang butuh kepada dalil yang mengaruskan orang yang mengatakan najis menunjukan apa itu dalilnya”.

 

Adapun riwayat ‘Athoo yang dimu’alaqkan oleh Imam Bukhori, telah disambungkan sanadnya, kata Al Hafidz dalam “Al Fath” :

هَذَا التَّعْلِيق وَصَلَهُ مُحَمَّد بْن إِسْحَاق الْفَاكِهِيّ فِي أَخْبَار مَكَّة بِسَنَدٍ صَحِيح إِلَى عَطَاء وَهُوَ اِبْن أَبِي رَبَاح أَنَّهُ كَانَ لَا يَرَى بَأْسًا بِالِانْتِفَاعِ بِشُعُورِ النَّاس الَّتِي تُحْلَق بِمِنًى

“ini adalah Ta’liq yang disambungkan Muhammad bin Ishaaq Al Faakihiy dalam “Akhbaar Mekkah” dengan sanad shahih sampai kepada ‘Athoo bin Abi Robaah bahwa beliau memandang tidak masalah memanfaatkan rambut manusia yang dicukur di Mina”.

 

Adapun permasalahan air liur anjing, maka ini adalah pembahasan yang lain yang Imam Bukhori gabungkan disini, yang menurut beliau ada kaitanya dengan masalah air bekas, baik itu bekas manusia maupun bekas binatang. Disini Imam Bukhori sengaja menampilkan pendapat ulama tentang air didalam bejana yang dijilat anjing, lalu bagaimana hukum menggunakan air tersebut untuk berwudhu. Ulama yang dinukil Imam Bukhori memandang didahulukan menggunakan air tersebut untuk berwudhu jika memang tidak ada lagi air selainnya, disbanding ia harus bertayamum. Ini saja untuk air bekas jilatan anjing yang para ulama masih memperdebatkan kesucian, apalagi jika air tersebut adalah dari binatang yang air liurnya suci, tentu lebih diperbolehkan lagi, yang menguatkan hal ini adalah hadits Abu Qotadah Rodhiyallahu anhu berikut :

أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ دَخَلَ فَسَكَبَتْ لَهُ وَضُوءًا فَجَاءَتْ هِرَّةٌ فَشَرِبَتْ مِنْهُ فَأَصْغَى لَهَا الإِنَاءَ حَتَّى شَرِبَتْ قَالَتْ كَبْشَةُ فَرَآنِى أَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ أَتَعْجَبِينَ يَا ابْنَةَ أَخِى فَقُلْتُ نَعَمْ. فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ »

 

“Bahwa Abu Qotadah masuk, lalu beliua membawa air wudhu, tiba-tiba datang kucing yang mau minum, maka beliau memiringkan bejana tersebut, sampai kucing tersebut minum darinya, beliau melihat aku memperhatikannya, maka Abu Qotadah Rodhiyallahu anhu berkata : ‘apa engkau heran wahai keponakanku? Aku berkata : ‘benar’. Sesungguhnya Rasulullah r bersabda : ‘Kucing itu tidak najis, karena ia senantiasa mengitari kalian’” (HR. lima ahli hadits, dishahihkan oleh Imam Bukhori).

Syaikh Sayyid Sabiq dalam “Fiqhus Sunah” menukil ucapan Imam Ibnul Mundzir :

أجمع أهل العلم على أن سؤر ما أكل لحمه يجوز شربه والوضوء به

“Para ulama sepakat bahwa air liur binatang yang boleh dimakan dagingnya itu boleh diminum (bekas air yang dijilatinya-pent.) dan berwudhu dengan air tersebut”.

 

Adapun riwayat mualaq Imam Az-Zuhriy, kata Al Hafidz :

وَقَوْل الزُّهْرِيّ هَذَا رَوَاهُ الْوَلِيد بْن مُسْلِم فِي مُصَنَّفه عَنْ الْأَوْزَاعِيّ وَغَيْره عَنْهُ وَلَفْظه ” سَمِعْت الزُّهْرِيّ فِي إِنَاء وَلَغَ فِيهِ كَلْب فَلَمْ يَجِدُوا مَاء غَيْره ، قَالَ : يَتَوَضَّأ بِهِ ” ، وَأَخْرَجَهُ اِبْن عَبْد الْبَرّ فِي التَّمْهِيد مِنْ طَرِيقه بِسَنَدٍ صَحِيح .

“Ucapan Az-Zuhriy ini diriwayatkan oleh Imam Al Waliid bin Muslim dalam Mushonafnya dari Al Auzaa’I dan selainnya dari Az-Zuhriy dan lafadznya : ‘aku mendengar Az-Zuhriy berpendapat tentang bejana yang dijilati anjing, lalu tidak ada air lagi selainnya, maka beliau berpendapat berwudhu dengannya’. Imam Ibnu Abdil Barr dalam “At Tamhiid meriwayatkan dari jalannya dengan sanad shahih”.

Adapun ta’liq Imam Bukhori tentang perkataan Imam Sufyan, maka Al Hafidz mengomentarinya :

الْمُتَبَادِر إِلَى الذِّهْن أَنَّهُ اِبْن عُيَيْنَةَ لِكَوْنِهِ مَعْرُوفًا بِالرِّوَايَةِ عَنْ الزُّهْرِيّ دُون الثَّوْرِيّ ؛ لَكِنَّ الْمُرَاد بِهِ هُنَا الثَّوْرِيّ ، فَإِنَّ الْوَلِيد بْن مُسْلِم عَقَّبَ أَثَر الزُّهْرِيّ هَذَا بِقَوْلِهِ : فَذَكَرْت ذَلِكَ لِسُفْيَان الثَّوْرِيّ فَقَالَ : وَاَللَّه هَذَا الْفِقْه بِعَيْنِهِ . . . فَذَكَرَهُ ، وَزَادَ بَعْد قَوْله شَيْء ” فَأَرَى أَنْ يَتَوَضَّأ بِهِ وَيَتَيَمَّم ” ، فَسَمَّى الثَّوْرِيّ الْأَخْذ بِدَلَالَةِ الْعُمُوم فِقْهًا ، وَهِيَ الَّتِي تَضَمَّنَهَا قَوْله تَعَالَى ( فَلَمْ تَجِدُوا مَاء ) لِكَوْنِهَا نَكِرَة فِي سِيَاق النَّفْي فَتَعُمّ وَلَا تَخُصّ إِلَّا بِدَلِيلٍ ، وَتَنْجِيس الْمَاء بِوُلُوغِ الْكَلْب فِيهِ غَيْر مُتَّفَق عَلَيْهِ بَيْن أَهْل الْعِلْم . وَزَادَ مِنْ رَأْيه التَّيَمُّم اِحْتِيَاطًا

“Yang terpikirkan langsung olehku, bahwa Sufyan disini adalah Ibnu Uyyainah, karena yang masyhur riwayat dari Az-Zuhriy adalah ia bukan sufyan Ats-Atsauriy, namun yang dimaksud disini adalah Ats-Tsauriy, karena Walid bin Muslim setelah meriwayatkan atsar zuhri ini berkata, hal ini disebutkan kepada Sufyan Ats-Tsauriy, maka beliau berkomentar : ‘Demi Allah ini adalah fiqih dengan teks ayat…, kemudian setelah berkata sesuatu, terdapat tambahan, aku berpendapat ia berwudhu dengannya dan bertayamum. Imam Ats-Atsauri menamakan pengambilan dalil umum sebagai fiqih, yaitu yang terkandung dalam firman Allah : “lalu tidak mendapatkan air”. Karena ini adalah nakiroh dalam kontek penafian, maka memberikan faedah umum, tidak dikhususkan kecuali dengan dalil. Berkaitan dengan najisnya air yang dijilati anjing belum disepakati dikalangan ulama dan tambahan pendapat Ats-Tsauri untuk bertayamum juga adalah dalam rangka kehati-hatian”.

 

Berkata Imam Bukhori :

 

170 – حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ عَاصِمٍ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ قُلْتُ لِعَبِيدَةَ عِنْدَنَا مِنْ شَعَرِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَصَبْنَاهُ مِنْ قِبَلِ أَنَسٍ ، أَوْ مِنْ قِبَلِ أَهْلِ أَنَسٍ فَقَالَ لأَنْ تَكُونَ عِنْدِى شَعَرَةٌ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

35). Hadits no. 170

“Haddatsanaa Malik bin Ismail ia berkata, haddatsanaa Isroil dari ‘Aashim dari Ibnu Siriin ia berkata, aku berkata kebada ‘Ubaidah : ‘kami memiliki rambut Nabi r yang kami dapatkan dari Anas atau dari keluarga Anas, maka ‘Ubaidah berkata : ‘seandainya aku memiliki rambut Nabi r itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya”.

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

 

1.  Nama                      : Abu Ghosaan Malik bin Ismail bin Dirham

Kelahiran                : Wafat 217 H

Negeri tinggal         : Kufah

Komentar ulama      : Ditsiqohkan Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Hatim, Imam Nasa’I, Imam Ibnu Syahiin dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : Isroil bin Yunus salah seorang gurunya dan tinggal senegeri dengannya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

1.  Nama                      : Abu Ghosaan Malik bin Ismail bin Dirham

Kelahiran                : Wafat 217 H

Negeri tinggal         : Kufah

Komentar ulama      : Ditsiqohkan Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Hatim, Imam Nasa’I, Imam Ibnu Syahiin dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : Isroil bin Yunus salah seorang gurunya dan tinggal senegeri dengannya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

2. Isroil bin Yunus dan Ibnu Siriin telah berlalu.

3.  Nama                      : Abu Abdur Rokhman ‘Aashim bin Sulaiman Al Ahwaal

Kelahiran                : Wafat > 140 H

Negeri tinggal         : Bashroh

Komentar ulama      : Tabi’i shoghiir. Ditsiqohkan Imam Sufyan Ats-Tsauriy, Imam Ahmad, Imam Ibnu Ma’in, Imam Ibnul Madiniy, Imam Abu Zur’ah, Imam Al’ijli, Imam Ibnu Sa’ad dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : Muhammad bin Siriin salah seorang gurunya dan tinggal senegeri dengannya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

4.  Nama                      : Abu ‘Amr ‘Ubaidah bin ‘Amr

Kelahiran                :

Negeri tinggal         : Kufah

Komentar ulama      : Tabi’i kabiir, Mukhodrom yakni orang yang hidup sezaman dengan Nabi r, namun belum beriman kepada Beliau.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Penjelasan Hadits :

1.    Keutamaan rambut Nabi r dibandingkan rambut manusia lainnya.

2.    Tabaruk dengan badan manusia atau bekasnya adalah khusus pada diri para Nabi Alaihimus Salam, sebagaimana Nabi Yusuf Alaihis Salam yang bertabaruk dengan gamisnya untuk menyembuhkan mata ayahndanya Nabi Ya’qub Alaihis Salam. Allah berfirman :

فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya” (QS. Yusuf (12) : 96).

 

Berkata Imam Bukhori :

 

171 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ قَالَ أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبَّادٌ عَنِ ابْنِ عَوْنٍ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لَمَّا حَلَقَ رَأْسَهُ كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَوَّلَ مَنْ أَخَذَ مِنْ شَعَرِهِ

38). Hadits no. 171

 “Haddatsanaa Muhammad bin Abdur  Rokhim ia berkata, akhbaronaa Sa’id bin Sulaiman ia berkata, haddatsanaa ‘Abbaad dari Ibnu ‘Aun dari Ibnu Siriin dari Anas Rodhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam ketika dicukur rambutnya, adalah Abu Tholhah yang pertama kali mengambil rambut Beliau Sholallahu ‘Alaihi wa Salam”.

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

 

1. Muhammad bin Abdur Rokhim, telah berlalu hadits no. 140, Ibnu A’un dan Ibnu Siriin no. 47 dan Anas bin Malik no. 14

 

2.  Nama                      : Abu Utsman Sa’id bin Sulaiman

Kelahiran                : Lahir 125 H Wafat  225 H

Negeri tinggal         : Wasith

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Abvu Hatim, Imam Ibnu Sa’ad, Imam Al’ijli  dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : ‘Abbaad adalah salah seorang gurunya dan tinggal senegeri dengannya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

3.  Nama                      : Abu Sahl ‘Abbaad ibnul ‘Awaam bin Umar

Kelahiran                : Wafat > 185 H

Negeri tinggal         : Wasith

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Hatim, Imam Nasa’I, Imam Abu Dawud, Imam Al’ijli, Imam Ibnu Sa’ad dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : Abdullah bin ‘Aun adalah salah seorang gurunya.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Penjelasan Hadits :

Telah berlalu berkaitan dengan rambut Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam.

باب إِذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا

Bab Jika Anjing Minum dalam Bejana Kalian, Cucilah Bejananya sebanyak 7 Kali

 

Penjelasan :

 

Sebagaimana dalam penjelasan awal bab, bahwa Imam Bukhori dalam bab 33 akan membahas dua permasalahan, yakni berkaitan dengan air bekasnya manusia dan air bekas binatang, dalam hal ini Imam Bukhori mengambil contoh air liur anjing yang bercampur dengan air yang nantinya akan digunakan oleh kita.

 

Berkata Imam Bukhori :

 

172 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِى الزِّنَادِ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا »

39). Hadits no. 172

 “Haddatsanaa Abdullah bin Yusuf dari Malik dari Abiz Zinnaad dari Al A’raj dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu ia berkata : ‘Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda : “Jika Anjing minum di bejana kalian, maka cucilah sebanyak 7 kali”.

HR. Muslim no. 279

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

 

Semua perowinya telah berlalu biografinya sebelumnya.

 

Berkata Imam Bukhori :

 

173 – حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ سَمِعْتُ أَبِى عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنَّ رَجُلاً رَأَى كَلْبًا يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ ، فَأَخَذَ الرَّجُلُ خُفَّهُ فَجَعَلَ يَغْرِفُ لَهُ بِهِ حَتَّى أَرْوَاهُ ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ »

 

 

40). Hadits no. 173

 “Haddatsanaa Ishaq, akhbaronaa Abdus Shomad, haddatsanaa Abdur Rokhman bin Abdullah bin Diinaar, aku mendengar Bapakku dari Abi Shoolih dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, Beliau bersabda : “bahwa ada seorang laki-laki melihat seekor anjing yang sedang makan tanah basah karena kehausan, maka laki-laki tadi melepas sepatunya dan menggunakannya untuk menciduk air lalu meminumkannya. Anjing itu Allah Subhanahu wa Ta’alaa bersyukur (membalas) perbuatan laki-laki tersebut dan memasukkannya ke dalam Jannah-Nya”.

HR. Muslim no. 2244

 

  Penjelasan biografi perowi hadits :

 

Semua perowinya telah berlalu biografinya sebelumnya, kecuali :

 

1.  Nama                      : Abdur Rokhman bin Abdullah bin Diinaar

Kelahiran                : –

Negeri tinggal         : Madinah

Komentar ulama      : Imam Ali ibnul Madiniy menilainya, shoduq. Imam Abu Hatim menilainya, ‘fiihi layyin, ditulis haditsnya, namun tidak dijadikan hujjah. Imam Ibnu Ma’in mendhoifkannya. Al Hafidz mencoba mengkompromikannya dengan menilainya, shoduq yukhthiu (berbuat keliru) dalam “At-Taqriib”.

Hubungan Rowi       : Abdullah adalah Bapaknya sekaligu salah seorang gurunya dan tinggal senegeri dengannya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

2.  Nama                      : Abu Abdur Rohman Abdullah bin Diinaar

Kelahiran                : Wafat 127 H

Negeri tinggal         : Madinah

Komentar ulama      : Tabi’I Shoghir. Ditsiqohkan oleh Imam Ahmad, Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Hatim, Imam Abu Zur’ah,  Imam Nasa’I, Imam Al’ijli, Imam Ibnu Sa’ad dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : Dzakwaan Abu Shoolih adalah salah seorang gurunya dan tinggal senegeri dengannya.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Kedudukan Sanad :

 

Dalam riwayat ini terdapat seorang perowi yang bernama Abdur Rokhman bin Abdullah bin Diinaar yang mana kondisinya, maksimal yang dapat diberikan adalah shoduq, artinya sanadnya adalah hasan. Namun Imam Bukhori meriwayatkan dalam kitabnya dari jalan lain (no. 2466) yakni dari :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ سُمَىٍّ مَوْلَى أَبِى بَكْرٍ عَنْ أَبِى صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ

Haddatsanaa Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Sumayya Maula Abu Bakar dari Abi Sholih As-Sammaan dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, Beliau bersabda : ‘dengan kisah yang lebih panjang’.

 

Berkata Imam Bukhori :

 

174 – وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا أَبِى عَنْ يُونُسَ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِى حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَتِ الْكِلاَبُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِى الْمَسْجِدِ فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

41). Hadits no. 174

 “Ahmad bin Syabiib berkata, haddatsanaa Bapakku dari Yunus dari Ibnu Syihaab ia berkata, haddatsanii Hamzah bin Abdullah dari Bapaknya ia berkata : ‘Dahulu Anjing biasa kencing, keluar masuk masjid pada zaman Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, dan mereka (para sahabat) tidak menyiramkan air karena hal tersebut”.

HR. Muslim no. 383

 

 Penjelasan biografi perowi hadits :

 

Semua perowinya telah berlalu biografinya sebelumnya, kecuali :

 

1.  Nama                      : Abu Abdillah Ahmad bin Syabiib

Kelahiran                : Wafat 229 H

Negeri tinggal         : Mekah

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Abu Hatim, Imam Ibnu Adiy dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : Syabiib adalah Bapaknya sekaligus salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

2.  Nama                      : Abu Sa’id Syabibb bin Sa’id

Kelahiran                : Wafat 187 H di Bashroh

Negeri tinggal         : Bashroh

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Ibnul Madini, Imam Daruquthni, Imam Thobrano dan Imam Ibnu Hibban. Imam Nasa’I, Imam Abu Zur’ah dan Imam Abu Hatim menilainya, laa ba’sa bih.

Hubungan Rowi       : Yunus adalah salah seorang gurunya.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Berkata Imam Bukhori :

 

175 – حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ ابْنِ أَبِى السَّفَرِ عَنِ الشَّعْبِىِّ عَنْ عَدِىِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ الْمُعَلَّمَ فَقَتَلَ فَكُلْ ، وَإِذَا أَكَلَ فَلاَ تَأْكُلْ ، فَإِنَّمَا أَمْسَكَهُ عَلَى نَفْسِهِ » . قُلْتُ أُرْسِلُ كَلْبِى فَأَجِدُ مَعَهُ كَلْبًا آخَرَ قَالَ « فَلاَ تَأْكُلْ ، فَإِنَّمَا سَمَّيْتَ عَلَى كَلْبِكَ ، وَلَمْ تُسَمِّ عَلَى كَلْبٍ آخَرَ »

42). Hadits no. 175

 “Haddatsanaa Hafsh bin Umar ia berkata, haddatsanaa Syu’bah dari Ibnu Abis Saffar dari Asy-Sya’biy dari ‘Adiy bin Hatim ia berkata, aku bertanya kepada Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, maka ia menjawab : ‘jika engkau melepaskan anjingmu yang terlatih, lalu dapat membunuh buruanmu, maka makanlah, jika ia memakannya, maka jangan, karena ia menangkapnya untuk dirinya sendiri”. Aku bertanya lagi, jika aku mengutus anjingku, lalu ternyata ada anjing lainnya? Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam menjawab : “maka jangan dimakan karena engkau membacakan Basmalah untuj anjingmu, namun anjing lainnya tidak dibacakan basmalah”.

HR. Muslim no. 1929

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

 

Semua perowinya telah berlalu biografinya sebelumnya, kecuali :

 

1.  Nama                      : Abdullah bin Abi Safar Said bin Yahya

Kelahiran                : Wafat pada masa kekhilafahan Marwan bin Muhammad

Negeri tinggal         : Kufah

Komentar ulama      : Tabi’I Shoghir. Ditsiqohkan oleh Imam Ahmad, Imam Ibnu Ma’in, Imam Nasa’I, Imam Ibnu Sa’ad, Imam Al’ijli dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : ‘Aamir Asy-Sya’biy adalah salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Penjelasan Hadits :

1.   Berkaitan dengan air liur anjing, nampaknya Imam Bukhori mengisyaratkan pada hadits no. 172 tentang najisnya, sedangkan sisa hadits berikutnya (no. 173, 174 & 175), secara tersirat air liur anjing suci. Memang para ulama berbeda pendapat tentang kesucian air liur anjing. Mayoritas ulama berpendapat bahwa air liur anjing itu najis. Alasannya adalah hadits no. 172 dan hadits lainnya yang semakna. Imam Shon’aniy dalam “Subulus Salam”berkata :

دَلَّ الْحَدِيثُ عَلَى أَحْكَامٍ : ( أَوَّلُهَا ) : نَجَاسَةُ فَمِ الْكَلْبِ مِنْ حَيْثُ الْأَمْرِ بِالْغَسْلِ لِمَا وُلِغَ فِيهِ ، وَالْإِرَاقَةِ لِلْمَاءِ ، وَقَوْلُهُ : [ طَهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ ] فَإِنَّهُ لَا غَسْلَ إلَّا مِنْ حَدَثٍ أَوْ نَجَسٍ ، وَلَيْسَ هُنَا حَدَثٌ ؛ فَتَعَيَّنَ النَّجَسُ .

وَالْإِرَاقَةُ : إضَاعَةُ مَالٍ ، فَلَوْ كَانَ الْمَاءُ طَاهِرًا لَمَا أَمَرَ بِإِضَاعَتِهِ ، إذْ قَدْ نَهَى عَنْ إضَاعَةِ الْمَالِ ، وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي نَجَاسَةِ فَمِهِ ، وَأُلْحِقَ بِهِ سَائِرُ بَدَنِهِ قِيَاسًا عَلَيْهِ ، وَذَلِكَ ؛ لِأَنَّهُ إذَا ثَبَتَ نَجَاسَةُ لُعَابِهِ ، وَلُعَابُهُ جُزْءٌ مِنْ فَمِهِ ، إذْ هُوَ عِرْقُ فَمِهِ ، فَفَمُهُ نَجِسٌ ، إذْ الْعِرْقُ جُزْءٌ مُتَحَلِّبٌ مِنْ الْبَدَنِ ، فَكَذَلِكَ بَقِيَّةُ بَدَنِهِ

“Hadits ini menunjukan beberapa hukum, yang pertama, najisnya mulut anjing dari sisi perintah untuk mencucinya ketika dijilati anjing dan perintah membuang air bekas jilatannya. Sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam : “Sucinya bejana kalian”, maka tidaklah sesuatu itu dicuci kecuali karena hadats dan najis, dan disini tidak ada hadats, maka terpilihlah alasannya karena najis.

Kemudian juga perintah membuang air, maka ini adalah membuang-buang harta, sekiranya air itu suci, tentu tidak akan diperintah untuk dibuang, yang mana syariat telah melarang menyis-nyiakan harta, ini adalah jelas berkaitan dengan najisnya mulu anjing, lalu diikutkan seluruh badan anjing, qiyas terhadapnya. Yakni jika telah jelas najisnya air liur anjing, sedangkan air liur itu bagian dari mulutnya, yakni ia adalah cairan ludah mulut, maka tentu mulutnya najis, begitu juga air ludah adalah sesuatu yang mengalir dari badan, maka seluruh badannya otomatis najis juga”. Selesai penukilan.

Memang benar telah datang riwayat dalam Shahih Muslim dari jalan :

وَحَدَّثَنِى عَلِىُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِىُّ حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ مُسْهِرٍ أَخْبَرَنَا الأَعْمَشُ عَنْ أَبِى رَزِينٍ وَأَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مِرَارٍ ».

“haddatsanii Ali bin Hujr As-Sa’diy, haddatsanaa Ali bin Mushir, akhbaronaa Al A’masy dari Abi Riziin dan Abi Shoolih dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda : “Jika anjing menjilati bejana kalian, maka buanglah airnya, lalu cucilah sebanyak 7 kali”.

Sebagian ulama mempermasalahkan tambahan ‘falyuriqhu’ (maka buanglah airnya), karena Ali bin Mushir, walaupun seorang perowi yang tsiqoh, namun beliau memiliki beberapa perkara yang dapat mempengaruhi haditsnya. Imam Ibnu Rojab dalam “Syaroh ‘Ilaalut Tirmidzi” (1/232) berkata :

وذكر الأثرم أيضاً عن أحمد أنه أنكر حديثاً [فـ] ـقيل له : رواه علي بن مسهر ! فقال : (( إن علي بن مسهر كانت كتبه قد ذهبت ، فكتب بعد ، فإن كان روى هذا غيره وإلا فليس بشئ يعتمد ويلتحق بهؤلاء من احترقت كتبه فحدث من حفظه فوهم كما قاله غير واحد في ابن ليهعة ،

“Al Atsram menyebutkan juga dari Ahmad bahwa beliau mengingkari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ali, dikatakan kepada Imam Ahmad : ‘yang meriwayatkannya Ali bin Mushir!, maka Imam Ahmad berkomentar : ‘sesungguhnya Ali bin Mushir buku-bukunya hilang, lalu ia menulis lagi setelah itu, jika orang lain meriwayatkan hadits ini juga (maka diterima), jika tidak maka tidak bisa dijadikan pegangan dan dikelompokkan sama seperti mereka yang kitabnya terbakar, lalu menceritakan hadits dari hapalannya, maka ia keliru, sebagaimana perkataan lebih dari satu ulama terhadap Ibnu Luhaiyah”.

Imam Muslim setelah meriwayatkan haditsnya Ali bin Mushir ini, beliau meriwayatkan dari jalan lain, kata beliau :

وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنِ الأَعْمَشِ بِهَذَا الإِسْنَادِ مِثْلَهُ وَلَمْ يَقُلْ فَلْيُرِقْهُ

“haddatsanii Muhammad ibnush Shobbaah, haddatsanaa Ismail bin Zakariyaa dari Al A’masy dengan sanad yang sama, namun tidak ada perkataan, maka buanglah airnya”.

Imam Nasa’I juga dalam “Sunannya” setelah menyebutkan riwayat Ali ini berkomentar :

لاَ أَعْلَمُ أَحَدًا تَابَعَ عَلِىَّ بْنَ مُسْهِرٍ عَلَى قَوْلِهِ فَلْيُرِقْهُ

“aku tidak mengetahui seorang pun yang menguatkan Ali bin Mushir berkaitan ucapannya ‘falyuriqhu’”.

Kemudian Al Hafidz dalam “Al Fath” juga menyebutkan deretan ulama yang meragukan tambahan ini, kata beliau :

وَقَالَ حَمْزَة الْكِنَانِيّ : إِنَّهَا غَيْر مَحْفُوظَة . وَقَالَ اِبْن عَبْد الْبَرّ : لَمْ يَذْكُرهَا الْحُفَّاظ مِنْ أَصْحَاب الْأَعْمَش كَأَبِي مُعَاوِيَة وَشُعْبَة . وَقَالَ اِبْن مَنْدَهْ : لَا تُعْرَف عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهٍ مِنْ الْوُجُوه إِلَّا عَنْ عَلِيّ بْن مُسْهِر بِهَذَا الْإِسْنَاد

“Hamzah Al Kinaaniy berkata : ‘hadits ini tidak mahfuudz (baca syadz)’. Ibnu Abdil Barr berkata : ‘Al Hufadz murid-muridnya Al A’masy seperti Abu Muawiyah dan Syu’bah tidak menyebutkan tambahan ini’. Ibnu Mandah berkata : ‘tidak diketahui dari Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam dari sisi manapun, kecuali dari Ali bin Mushir dengan sanad ini’”.

Hampir saja kita menghukumi hadits ini syadz, berasal dari kekeliruan Ali bin Mushir, seandainya Al Hafidz tidak berkata setelahnya :

قَدْ وَرَدَ الْأَمْر بِالْإِرَاقَةِ أَيْضًا مِنْ طَرِيق عَطَاء عَنْ أَبِي هُرَيْرَة مَرْفُوعًا أَخْرَجَهُ اِبْن عَدِيّ ، لَكِنْ فِي رَفْعه نَظَر ، وَالصَّحِيح أَنَّهُ مَوْقُوف . وَكَذَا ذَكَرَ الْإِرَاقَة حَمَّاد بْن زَيْد عَنْ أَيُّوب عَنْ اِبْن سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَة مَوْقُوفًا وَإِسْنَاده صَحِيح أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْره .

“telah ada perintah membuang juga dari jalan ‘Athoo dari Abu Huroiroh secara marfu’ yang dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Adiy, namun dalam pe-marfu’-annya perlu ditinjau, yang benar adalah mauquf. Demikian juga penyebutan perintah membuang oleh Hammaad bin Zaid dari Ayyub dari Ibnu Siriin dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu secara mauquf dengan sanad yang shahih, dikeluarkan oleh Daruquthni dan selainnya”.

Imam Syaukani dalam “Nailul Author” menambahkan :

وَقَدْ حَسَّنَ الدَّارَقُطْنِيّ حَدِيثَ الْإِرَاقَةِ ، وَأَخْرَجَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ

“Telah dihasankan hadits perintah membuah oleh Imam Daruquthni dan dikeluarkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya”.

 

Namun sebagian ulama berpendapat bahwa air liur anjing itu suci, yakni dari kalangan Malikiyah dan Dhohiriyah. Dalil mereka adalah, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Bukhori hadits no. 175, tentang tanya jawab sahabat Adiy Rodhiyallahu ‘Anhu dengan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam tentang anjing pemburu, dimana Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam membolehkan anjing untuk berburu dan disebutkan nama Allah Subhanahu wa Ta’alaa ketika melepasnya, kalau ia berhasil membunuh binatang buruan tersebut, maka hewan buruan tadi halal bagi kita. Hal ini juga dikuatkan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?.” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (QS. Al Maidah (5) : 4).

Sisi pendalilan mereka : ‘bahwa anjing tersebut ketika menangkap bintang buruan, besar kemungkinan air liurnya menempel pada binatang buruan, namun kita tidak diperintahkan untuk mencucinya terlebih dahulu (apalagi sampai 7 kali).

Namun dapat disanggah, bahwa tidak adanya penyebutan perintah untuk mensucikan bukan berarti bahwa hal tersebut tidak najis, namun telah terdapat perintah secara umum untuk membersihkan najis, sehingga tidak perlu diulangi lagi pada waktu itu penyebutannya.

Mereka yang mengatakan sucinya air liur anjing, berdalil dengan hadits no. 174 riwayat Imam Bukhori diatas yang menggambarkan bahwa anjing pada zaman Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam biasa kencing dan mondar-mandir keluar masuk masjid, dimana hal ini menunjukan bahwa air liurnya suci, karena kebiasaan anjing adalah menjulurkan lidahnya ketika berjalan, duduk dan posisi apapun, sehingga sangat besar kemungkinan air liurnya menetes di lantai masjid dan pada riwayat tersebut tidak disebutkan juga perintah mensucikannya. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman menyifatkan anjing :

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).” (QS. Al A’raf (7) : 176).

Namun istidlal mereka dapat disanggah : adapun masalah kencingnya anjing, maka para ulama telah sepakat akan najisnya, maka riwayat ini tidak dapat dikatakan membatalkan ijma tersebut. Imam Mudziri berkata sebagaimana dinukil Imam Syaukani dalam Nail :

قَالَ الْمُنْذِرِيُّ : إنَّهَا كَانَتْ تَبُولُ خَارِجَ الْمَسْجِدِ فِي مَوَاطِنِهَا ثُمَّ تُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ .

“anjing tersebut kencing diluar masjid di tanah, lalu mondar-mandir masuk masjid”.

Adapun masalah mondar-mandirnya anjing di masjid, maka Imam Syaukaniy menjawabnya :

وَأَمَّا مُجَرَّدُ الْإِقْبَالِ وَالْإِدْبَارِ فَلَا يَدُلَّانِ عَلَى الطَّهَارَةِ ، وَأَيْضًا يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ تَرْكُ الْغَسْلِ لِعَدَمِ تَعْيِينِ مَوْضِعِ النَّجَاسَةِ أَوْ لِطَهَارَةِ الْأَرْضِ بِالْجَفَافِ .

“Adapun sekedar mondar-mandir, maka tidak menunjukan kesucian anjing, karena dimungkinkan tidak dilakukan pencucian, karena tidak diketahui di tempat mana jatuhnya najis atau karena tanah dapat mensucikannya dengan keringnya najis tersebut”.

Lalu Imam Syaukani menukil jawaban Al Hafidz :

قَالَ الْحَافِظُ : وَالْأَقْرَبُ أَنْ يُقَالَ : إنَّ ذَلِكَ كَانَ فِي ابْتِدَاءِ الْحَالِ عَلَى أَصْلِ الْإِبَاحَةِ ، ثُمَّ وَرَدَ الْأَمْرُ بِتَكْرِيمِ الْمَسَاجِدِ وَتَطْهِيرِهَا وَجَعْلِ الْأَبْوَابِ عَلَيْهَا .

“yang hampir mendekati kebenaran, dikatakan sesungguhnya perkara mondar-mandirnya anjing adalah pada permulaan awalnya diperbolehkannya, lalu datang perintah untuk memuliakan masjid dan mensucikannya, maka lalu dibuat pintu masjidnya”.

Dalil mereka lagi yang mengatakan sucinya anjing adalah riwayat Imam Bukhori no. 173, tentang seorang yang menolong anjing yang kehausan, yaitu dengan menjadikan sepatunya untuk menciduk air yang diberikan kepada anjing tersebut. terdapat juga kisah yang masyhur yang diriwayatkan Imam Muslim dalam shahihnya :

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

“Ada seorang wanita pelacur yang melihat seekor anjing pada waktu musim panas yang mengelilingi sumur, ia menjulurkan lidahnya karena kehausan, maka wanita tersebut melepaskan sepatunya (dan mengambil air dalam sumur, lalu meminumkan kepada anjing tersebut-pent.), maka ia diampuni dosanya”.

Mereka beristidlal bahwa sepatu yang dijilati anjing tersebut, tidak ada komentar dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam untuk dibersihkan setelahnya, yang menunjukan bahwa air liurnya itu suci.

Sanggahan terhadap hal ini adalah laki-laki dan wanita yang disebutkan dalam kisah tersebut adalah dari kalangan Bani Isroil, yang mana bisa jadi syariat mereka menganggap anjing itu suci, sebagaimana kisah Ashabul Kahfi yang selalu ditemani oleh anjingnya. Berkaitan dengan masalah syariat sebelum kita maka para ulama ushul fiqih telah mengelompokannya, Imam Ibnu Utsaimin berkata ‘Syarah Arbain Nawawi” (Hadits no. 2) :

من العلماء من قال: إن شرع من قبلنا شرع لنا مالم يرد شرعنا بخلافه، وذلك أن ماسبق من الشرائع:

.1إما أن توافقه شريعتنا

.2 وإما أن تخالفه شريعتنا

.3 وإما أن لاندري توافقه شريعتنا أم لا فيكون مسكوتاً عنه

فما وافقته شريعتنا فهو حق ونتبعه، وهذا بالإجماع، واتباعنا إياه لا لأجل وروده في الكتاب السابق ولكن لشريعتنا. – وما خالف شريعتنا فلا نعمل به بالاتفاق، لأنه منسوخ، ومثاله لايحرم على الناس أكل الإبل في وقتنا مع أنها على بني إسرائيل – اليهود خاصة – كانت محرمة. – وما لم يرد شرعنا بخلافه ولا وفاقه فهذا محل الخلاف: منهم من قال: إنه شرع لنا. ومنهم من قال: ليس بشرعٍ لنا، ولكل دليل، وتفصيل ذلك في أصول الفقه.

“Sebagian ulama berkata, syariat orang sebelum kita menjadi syariat bagi kita selama syariat kita tidak menyelisihinya. Yang demikian karena syariat sebelum kita ada 3 jenis :

1.    Sesuai dengan syariat kita

2.    Menyelisihi syariat kita

3.    Tidak diketahui apakah ia menyelisihi syariat kita atau tidak, sehingga statusnya masih meragukan

Adapun yang sesuai dengan syariat kita maka itu adalah kebenaran dan kita ikuti dan ini adalah ijma, kita mengikutinya bukan karena terdapat dalam kitab sebelumnya, namun karena itu adalah syariat kita.

Adapun yang menyelisihi syariat kita, maka kita tidak mengerjakannya berdasarkan ijma, karena ia berarti sudah dimansukh (dihapus hukumnya). Misalnya tidak diharamkan orang memakan unta pada waktu kita sekarang, dimana pada zaman bani isroil –yahudi khususnya-hal itu diharamkan.

Adapun yang syariat kita tidak menyelisihinya dan tidak juga menyepakatinya, maka ini adalah sesuatu yang diperselisihkan, sebagian ulama mengatakan, ia syariat bagi kita, sebagian lagi mengatakan, ini bukan syariat bagi kita. Setiap pendapat tersebut memiliki dalil yang dirinci dalam ilmu ushul fiqih”. Selesai penukilan.

Berdasarkan keterangan diatas, masalah kita ini digolongkan ke dalam syariat orang sebelum kita, dimana syariat kita menyelisihinya. Yakni mungkin saja air liur anjing suci bagi mereka, namun tidak suci bagi kita. Ataupun dapat dikatakan, tidak melazimkan ketika orang yang disebutkan dalam kisah ini, menggunakan sepatu mereka untuk mengambil air yang kemudian diminumkan kepada anjing yang kehausan, lalu mereka tidak mencucinya. Mereka terilhami langsung menggunakan sepatu karena situasinya darurat, demi melihat anjing yang sudah kehausan. Lalu atas niat baiknya kepada makhluk Allah ini, maka Allah Subhanahu wa Ta’alaa mengampuni seluruh dosanya. Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :

فِى كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Pada semua makhluk yang jantungnya berdenyut (makhluk yang bernyawa) ada pahalanya (ketika berbuat baik kepadanya-pent.)” (Muttafaqun Alaih).

 

Dalil lainnya, yang diajukan oleh mereka yang mengatakan anjing suci, yaitu diberikannya keringanan oleh syariat bagi seseorang untuk memelihara anjing yang berguna untuk menjaga ternak, ladang dan sawah, sebagaimana dalam hadits Bukhori-Muslim dan ini lafadznya Bukhori :

مَنْ أَمْسَكَ كَلْبًا فَإِنَّهُ يَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطٌ ، إِلاَّ كَلْبَ حَرْثٍ أَوْ مَاشِيَةٍ

“Barangsiapa yang memelihara anjing, maka akan berkurang setiap harinya pahala amalannya 1 qiiroth, kecuali anjing penjaga ladang atau untuk  penjaga sawah”.

Dalam lafadz lain :

إِلاَّ كَلْبَ غَنَمٍ أَوْ حَرْثٍ أَوْ صَيْدٍ

“kecuali anjing penjaga ternak (kambing) atau penjaga ladang atau untuk berburu”.

Dalam lafadz lain :

كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ مَاشِيَةٍ

“kecuali anjing untuk berburu atau penjaga sawah”.

Istidlal mereka hampir mirip dengan sebelumnya, yakni ketika anjing menjaga ternak, menjaga ladang bahkan diajak berburu, tentu air liurnya akan menetes kemana-mana, bahkan tidak jarang karena anjing adalah bintang peliharaan, ia akan ngusel (bs. Jawa) kepada pemeliharanya, dan tentu saja ia biasanya akan menjilati badan pemiliknya. Seandainya hal tersebut najis, tentu akan memberatkan pemiliknya.

Jawabanya adalah hampir mirip dengan permasalahan sebelumnya, bahwa diperbolehkannya memelihara anjing, tidak menghilangkan kewajiban untuk membersihkan bekas jilatannya.

 

Kesimpulannya, pendapat yang rajih (kuat) adalah najisnya air liur anjing, sehingga sebagaimana dalam kasus yang difatwakan oleh Imam Az-Zuhriy ketika ditanya tentang hukum berwudhu dari air bekas jilatan anjing yang tidak ada lagi, kecuali hanya air itu saja, maka beliau menjawab untuk menggunakan air tersebut, berdasarkan keumuman ayat yang diperbolehkan untuk bertayamum adalah ketika ada air, sedangkan dalam kasus ini ada air, walaupun itu bekas jilatan anjing. Kemudian Imam Sufyan Ats-Tsauriy mengomentari fatwa tersebut, bahwa sebaiknya disamping ia berwudhu dengan air tersebut, ia juga bertayamum.

Namun yang rajih, berdasarkan bahwa wudhu disyaratkan dengan air yang suci, sedangkan air bekas jilatan anjing adalah najis, maka jika tidak ada lagi air selainnya, ini termasuk kedalam keumuman ayat juga, yakni tidak ada air yang digunakan untuk berwudhu, sehingga baginya cukup bertayamum saja. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabya”Syaroh Syuruuthus Sholat” menyebutkan bahwa salah satu syarat wudhu adalah kesucian airnya. Kemudian Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbaad mensyarahnya, kata beliau :

ويشترط في ماء الوضوء أن يكون طهوراً فلا يتطهر بماء متنجس

“Dipersyaratkan tentang air wudhu ia suci, maka tidak boleh bersuci dengan air yang (menjadi) najis”.

2.   Jilatan anjing dicuci sebanyak 7 kali dengan air, pada basuhan yang pertama dengan tanah menurut pendapat yang kuat.

3.   Bolehnya melatih anjing dan ketika ia sudah pandai berburu, binatang yang ditangkap untuk pemiliknya adalah halal bagi pemiliknya.

4.   Maha suci Allah Subhanahu wa Ta’alaa yang memiliki hikmah yang tinggi, ketika menjadikan anjing sebagai sumber pahala dan diampuninya dosa, sekaligus juga ia menjadi sumber dikuranginya pahala dan mencegah malaikat rahmat masuk rumah. Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :

لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلاَ صُورَةُ تَمَاثِيلَ

“Malaikat tidak akan masuk rumah yang didalamnya ada anjing atau ada gambar (yang bernyawa)” (Muttafaqun ‘Alaih).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: